PEMBINAAN KADER KESEHATAN

Published 12 Agustus 2014 by nurulekow
  1. Pendahuluan

Dalam rangka menuju masyarakat yang adil dan makmur maka pembangunan dilakukan di segala bidang. Pembangunan bidang kesehatan yang merupakan bagian integral dari penbangunan nasional yang secara keseluruhannya perlu digalakkan pula. Hal ini telah digariskan dalm sistem kesehatan nasional antara lain disebutkan bahwa, sebagai tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk atau individu agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal, sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan pembangunan nasional.

Selanjutnya pembangunan dibidang kesehatan mempunyai arti yang penting dalam kehidupan nasional, khususnya di dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan. Untuk mencapai kebehasilan tersebut erat kaitannya dengan pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia sebagai modal dasar pembangunan nasional.

Pengembangan sumber daya manusia merupakan suatu upaya yang besar, sehingga tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja tanpa adanya keterlibatan masyarakat.

  1. Pengertian

Secara umum istilah kader kesehatan yaitu kader-kader yang dipilih oleh masyarakat tadi menjadi penyelenggara Posyandu.

Banyak para ahli mengemukakan mengenai pengertian tentang kader kesehatan antara lain : L.A. Gunawan memberikan batasan tentang kader kesehatan : “Kader kesehatan dinamakan juga promotor kesehatan desa (prokes) adalah tenaga sukarela yang dipilih oleh dari masyarakat dan bertugas mengembangkan masyarakat”.

Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat Depkes RI memberikan batasan kader : “Kader adalah warga masyarakat setempat yang dipilih dan ditinjau oleh masyarakat dan dapat bekerja secara sukarela”.

Pengertian kader adalah seorang tenaga sukarela yang direkrut dari, oleh dan untuk masyarakat, yang bertugas membantu kelancaran pelayanan kesehatan.

Kader kesehatan masyarakat adalah laki-laki atau wanita yang dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk menangani masalah-masalah kesehatan perseorangan maupun masyarakat untuk berkerja dalam hubungan yang amat dekat dengan tempat-tempat pemberian pelayanan kesehatan.

Kader merupakan tenaga masyarakat yang dianggap paling dekat dengan masyarakat, departemen kesehatan membuat kebijakan mengenai latihan untuk kader yang dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, menurunkan angka kematian ibu dan anak. Para kader kesehatan masyarakat itu seyogyanya memiliki latar belakang pendidikan yang cukup sehingga memungkinkan mereka untuk membaca, menulis dan menghitung secara sederhana.

Kader kesehatan masyarakat bertanggung jawab atas masyarakat setempat serta pimpinan yang ditujuk oleh pusat-pusat pelayanan kesehatan. Diharapkan mereka dapat melaksanakan petunjuk yang diberikan oleh para pembimbing dalam jalinan kerja dari sebuah tim kesehatan.

Para kader kesehatan masyarakat untuk mungkin saja berkerja secara fulltime atau partime dalam bidang pelayanan kesehatan dan mereka tidak dibayar dengan uang atau bentuk lainnya oleh masyarakat setempat atau oleh puskesmas. Namun ada juga kader kesehatan yang disediakan sebuah rumah atau sebuah kamar serta beberapa peralatan secukupnya oleh masyarakat setempat.

Dengan terbentuknya kader kesehatan, pelayanan kesehatan yang selama ini dikerjakan oleh petugas kesehatan saja dapat dibantu oleh masyarakat. Dengan demikian masyarakat bukan hanya merupakan objek pembangunan, tetapi juga merupakan mitra pembangunan itu sendiri. Selanjutnya dengan adanya kader, maka pesan-pesan yang disampaikan dapat diterima dengan sempurna berkat adanya kader, jelaslah bahwa pembentukan kader adalah perwujudan pembangunan dalam bidang kesehatan.

  1. Macam Kader Kesehatan Dalam Pelayanan Puskesmas

Keberadaan kader sering dikaitkan dengan pelayanan rutin di posyandu. Padahal ada beberapa macam kader bisa dibentuk sesuai dengan keperluan menggerakkan partisipasi masyarakat atau sasarannya dalam program pelayanan kesehatan.

  1. Kader Posyandu Balita

Kader yang bertugas di pos pelayanan terpadu (posyandu) dengan kegiatan rutin setiap bulannya melakukan pendaftaran, pencatatan, penimbangan bayi dan balita.

  1. Kader Posyandu Lansia

Kader yang bertugas di posyandu lanjut usia (lansia) dengan kegiatan rutin setiap bulannya membantu petugas kesehatan saat pemeriksaan kesehatan pasien lansia.

  1. Kader Masalah Gizi

Kader yang bertugas membantu  petugas puskesmas melakukan pendataan, penimbangan bayi dan balita yang mengalami gangguan gizi (malnutrisi).

  1. Kader Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)

Kader yang bertugas membantu  bidan puskesmas melakukan pendataan, pemeriksaan ibu hami dan anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan (penyakit).

  1. Kader Keluarga Berencana (KB)

Kader yang bertugas membantu  petugas KB melakukan pendataan, pelaksanaan pelayanan KB kepada pasangan usia subur di lingkungan tempat tinggalnya.

  1. Kader Juru Pengamatan Jentik (Jumantik)

Kader yang bertugas membantu  petugas puskesmas melakukan pendataan dan pemeriksaan jentik nyamuk di rumah penduduk sekitar wilayah kerja puskesmas

  1. Kader Upaya Kesehatan Kerja (UKK)

Kader yang membantu petugas puskesmas melakukan pendataan dan pemeriksaan kesehatan tenaga kerja di lingkungan pos tempat kerjanya

  1. Kader Promosi Kesehatan (Promkes)

Kader yang bertugas membantu petugas puskesmas melakukan penyuluhan kesehatan secara perorangan maupun dalam kelompok masyarakat

  1. Kader Upaya Kesehatan Sekolah (UKS)

Kader yang bertugas membantu petugas puskesmas melakukan penjaringan dan pemeriksaan kesehatan anak-anak usia sekolah pada pos pelayanan UKS.

  1. Tujuan Pembentukan Kader

Dalam rangka mensukseskan pembangunan nasional, khusus di bidang kesehatan, bentuk pelayanan kesehatan diarahkan pada prinsip bahwa masyarakat bukanlah sebagai objek akan tetapi merupakan subjek dari pembangunan itu sendiri. Pada hakekatnya kesehatan dipolakan mengikut sertakan masyarakat secara aktif dan bertanggung jawab.

Keikut sertaan masyarakat dalam meningkatkan efisiensi pelayanan adalah atas dasar terbatasnya daya, dan upaya dalam operasional pelayanan kesehatan masyarakat akan memanfaatkan sumber daya yang ada di masyarakat seoptimal mungkin. Pola pikir yang semacam ini merupakan penjabaran dari karsa pertama yang berbunyi, “Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk menolong dirinya dalam bidang kesehatan”.

Menurut Santoso Karo-Karo, kader yang dinamis dengan pendidikan rata-rata tingkat desa teryata mampu melaksanakan beberapa hal yang sederhana, akan tetapi berguna bagi masyarakat sekelompoknya meliputi :

  1. Pengobatan/ringan sederhana, pemberian obat cacing pengobatan terhadap diare dan pemberian larutan gula garam, obat-obatan sederhan dan lain-lain.
  2. Penimbangan dan penyuluhan gizi.
  3. Pemberantasan penyakit menular, pencarian kasus, pelaporan vaksinasi, pemberian distribusi obat/alat kontrasepsi KB penyuluhan dalam upaya menanamkan NKKBS.
  4. Penyediaan dan distribusi obat/alat kontrasepsi KB penyuluhan dalam upaya menamakan NKKBS.
  5. Penyuluhan kesehatan dan bimbingan upaya keberhasilan lingkungan, pembuatan jamban keluarga dan sarana air sederhana.
  6. Penyelenggaraan dana sehat dan pos kesehatan desa dan lain-lain.
  1. Pembentukan Kader

Mekanisme pembentukan kader membutuhkan kerjasama tim. Hal ini disebabkan karena kader yang akan dibentuk terlebih dahulu harus diberikan pelatihan kader. Pelatihan kader ini diberikan kepada para calon kader didesa yang telah ditetapkan. Sebelumnya telah dilaksanakan kegiatan persiapan tingkat desa berupa pertemuan desa, pengamatan dan adanya keputusan bersama untuk terlaksanakan acara tersebut. Calon kader berdasarkan kemampuan dan kemauan berjumlah 4-5 orang untuk tiap posyandu. Persiapan dari pelatihan kader ini adalah:

  1. Calon kader yang kan dilatih.
  2. Waktu pelatihan sesuai kesepakatan bersama.
  3. Tempat pelatihan yang bersih, terang, segar dan cukup luas.
  4. Adanya perlengkapan yang memadai.
  5. Pendanaan yang cukup.
  6. Adanya tempat praktik (lahan praktik bagi kader).

Tim pelatihan kader melibatkan dari beberapa sektor. Camat otomatis bertanggung jawab terhadap pelatihan ini, namun secara teknis oleh kepala puskesmas. Pelaksanaan harian pelatihan ini adalah staf puskesmas yang mampu melaksanakan. Adapun pelatihannya adalah tanaga kesehatan, petugas KB (PLKB), pertanian, agama, pkk, dan sector lain.

Waktu pelatihan ini membutuhkan 32 jam atau disesuaikan. Metode yang digunakan adalah ceramah, diskusi, simulasi, demonstrasi, pemainan peran, penugasan, dan praktik lapangan. Jenis materi yang disampaikan adalah:

  1. Pengantar tentang posyandu.
  2. Persiapan posyandu.
  3. Kesehatan ibu dan anak.
  4. Keluarga berencana.
  5. Penangulangan diare.
  6. Pencatatan dan pelaporan.
  7. Persyaratan Menjadi Kader

Bahwa pembangunan dibidang kesehatan dapat dipengaruhi dari keaktifan masyarakat dan pemuka-pemukanya termasuk kader, maka pemilihan calon kader yang akan dilatih perlu mendapat perhatian.

Secara disadari bahwa memilih kader yang merupakan pilihan masyarakat dan memdapat dukungan dari kepala desa setempat kadang-kadang tidak gampang. Namun bagaimanapun proses pemilihan kader ini hendaknya melalui musyawarah dengan masyarakat, sudah barang tentu para pamong desa harus juga mendukung.

Dibawah ini salah satu persaratan umum yang dapat dipertimbangkan untuk pemilihan calon kader :

  1. Dapat baca, tulis dengan bahasa Indonesia.
  2. Secara fisik dapat melaksanakan tugas-tugas sebagai kader.
  3. Mempunyai penghasilan sendiri dan tinggal tetap di desa yang bersangkutan.
  4. Aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial maupun pembangunan desanya.
  5. Dikenal masyarakat dan dapat bekerjasama dengan masyarakat calon kader lainnya dan berwibawa.
  6. Sanggup membina paling sedikit 10 KK untuk meningkatkan keadaan kesehatan lingkungan.
  7. Diutamakan telah mengikuti KPD atau mempunyai keterampilan.

Dr. Ida Bagus, mempunyai pendapat lain mengenai persaratan bagi seorang kader antara lain :

  1. Berasal dari masyarakat setempat.
  2. Tinggal di desa tersebut.
  3. Tidak sering meninggalkan tempat untuk waktu yang lama.
  4. Diterima oleh masyarakat setempat.
  5. Masih cukup waktu bekerja untuk masyarakat disamping mencari nafkah lain.
  6. Sebaiknya yang bisa baca tulis.

Dari persyaratan-persyaratan yang diutamakan oleh beberapa ahli diatas dapatlah disimpulkan bahwa kriteria pemilihan kader kesehatan antara lain, sanggup bekerja secara sukarela, mendapat kepercayaan dari masyarakat serta mempunyai kredibilitas yang baik dimana perilakunya menjadi panutan masyarakat, memiliki jiwa pengabdian yang tinggi, mempunyai penghasilan tetap, pandai baca tulis, sanggup membina masyarakat sekitarnya.

Kader kesehatan mempunyai peran yang besar dalam upanya meningkatkan kemampuan masyarakat menolong dirinya untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. Selain itu peran kader ikut membina masyarakat dalam bidang kesehatan dengan melalui kegiatan yang dilakukan baik di Posyandu.

 

  1. Tugas Kegiatan Kader

Tugas kegiatan kader akan ditentukan, mengingat bahwa pada umumnya kader bukanlah tenaga profesional melainkan hanya membantu dalam pelayanan kesehatan. Dalam hal ini perlu adanya pembatasan tugas yang diemban, baik menyangkut jumlah maupun jenis pelayanan.

Adapun kegiatan pokok yang perlu diketahui oleh kader dan semua pihak dalam rangka melaksanakan kegiatan-kegiatan baik yang menyangkut didalam maupun diluar Posyandu antara lain :

  1. Kegiatan yang dapat dilakukan kader di Posyandu adalah:
  • Melaksanan pendaftaran.
  • Melaksanakan penimbangan bayi dan balita.
  • Melaksanakan pencatatan hassil penimbangan.
  • Memberikan penyuluhan.
  • Memberi dan membantu pelayanan.
    1. Kegiatan yang dapat dilakukan kader diluar Posyandu KB-kesehatan adalah:
  • Bersifat yang menunjang pelayanan KB, KIA, Imunisasi, Gizi dan penanggulan diare.
  • Mengajak ibu-ibu untuk datang para hari kegiatan Posyandu.
  • Kegiatan yang menunjang upanya kesehatan lainnya yang sesuai dengan permasalahan yang ada :
  • Pemberantasan penyakit menular.
  • Penyehatan rumah.
  • Pembersihan sarang nyamuk.
  • Pembuangan sampah.
  • Penyediaan sarana air bersih.
  • Menyediakan sarana jamban keluarga.
  • Pembuatan sarana pembuangan air limbah.
  • Pemberian pertolongan pertama pada penyakit.
  • Dana sehat.
  • Kegiatan pengembangan lainnya yang berkaitan dengan kesehatan.
    1. Peranan Kader di luar Posyandu KB-kesehatan:
  • Merencanakan kegiatan, antara lain: menyiapkan dan melaksanakan survei mawas diri, membahas hasil survei, menyajikan dalam MMD, menentukan masalah dan kebutuhan kesehatan masyarakat desa, menentukan kegiatan penanggulangan masalah kesehatan bersama masyarakat membahas pembagian tugas menurut jadwal kerja.
  • Melakukan komunikasi, informasi dan motivasi wawancara muka (kunjungan), alat peraga dan percontohan.
  • Menggerakkan masyarakat: mendorong masyarakat untuk gotong royong, memberikan informasi dan mengadakan kesepakatan kegiatan apa yang akan dilaksanakan dan lain-lain.
  • Memberikan pelayanan yaitu, :
  • Membagi obat.
  • Membantu mengumpulkan bahan pemeriksaan.
  • Mengawasi pendatang didesanya dan melapor.
  • Memberikan pertolongan pemantauan penyakit.
  • Memberikan pertolongan pada kecelakaan dan lainnya.
  • Melakukan pencatatan, yaitu:
  • KB atau jumlah PUS, jumlah peserta aktif, dsb.
  • KIA : jumlah ibu hamil, vitamin A yang dibagikan dan sebagainya.
  • Imunisasi : jumlah imunisasi TT bagi ibu hamil dan jumlah bayi dan balita yang diimunisasikan.
  • Gizi : jumlah bayi yang ada, mempunyai KMS, balita yang ditimbang dan yang naik timbangan.
  • Diare : jumlah oralit yang dibagikan, penderita yang ditemukan dan dirujuk.
  • Melakukan pembinaan mengenai program keterpaduan KB-kesehatan dan upanya kesehatan lainnya.
  • Keluarga pembinaan yang untuk masing-masing untuk berjumlah 10-20 KK atau diserahkan dengan kader setempat hal ini dilakukan dengan memberikan informasi tentang upanya kesehatan dilaksanakan.
  • Melakukan kunjungan rumah kepada masyarakat terutama keluarga binaan.
  • Melakukan pertemuan kelompok.
  1. Peran Kader Kesehatan dan Pemerhati KIA

Peran kader kesehatan dan pemerhati KIA di wilayahnya cukup banyak dan tergolong cukup berat. Sedikitnya ada 10 tugas yang harus dijalani, yaitu :

  1. Menjadi pendamping ibu dan keluarganya dalam menerima pelayanan KIA.
  2. Membantu keluarga dalam menerapkan buku KIA, misalnya memotivasi ibu dan keluarga untuk membaca dan menerapkan pesan-pesan dalam buku KIA dan melakukan penyuluhan (mengajar) pesan-pesan yang ada di dalam buku KIA.
  3. Membantu petugas kesehatan dalam pelayanan KIA di posyandu, dalam kunjungan ke rumah ibu hamil/nifas/bersalin/pasca persalinan maupun ke rumah balita.
  4. Memotivasi dan menggerakkan ibu hamil agar mau datang/control ke fasilitas kesehatan.
  5. Memotivasi dan menggerakkan ibu balita agar mau datang dan membawa anaknya ke posyandu dan sarana kesehatan lainnya.
  6. Memberi pelayanan KIA bagi ibu dan keluarganya pada daerah yang tidak terjangkau oleh petugas kesehatan, misalnya menimbang berat badan, mencatat dan memberikan vitamin A sesuai petunjuk dalam buku KIA.
  7. Mengingatkan ibu untuk selalu membawa buku KIA setiap kali berkunjung ke fasilitas kesehatan.
  8. Merujuk dan mendampingi ibu dan balita yang mempunyai masalah kesehatan kepada petugas kesehatan.
  9. Menggunakan buku KIA dalam melakukan deteksi dini masalah kesehatan ibu dan anak.
  10. Menggunakan buku KIA dalam melakukan deteksi dini gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak.
  1. Strategi Menjaga Eksistensi Kader

Setelah kader posyandu terbentuk, maka perlu adanya strategi agar mereka dapat selalu eksis membantu masyarakat dibidang kesehatan.

  1. Refresing kader posyandu pada saat posyandu telah selesai dilaksanakan oleh bidan desa maupun petugas lintas sektor yang mengikuti kegiatan posyandu.
  2. Adanya perubahan kader posyandu tiap desa dan dilaksanakan pertemuan rutin tiap bulan secara bergilir disetiap posyandu.
  3. Revitalisasi kader posyandu baik tingkat desa maupun kecamatan. Dimana semua kader di undang dan diberikan penyegaran materi serta hiburan dan bisa juga diberikan rewards.
  4. Pemberian rewards rutin misalnya berupa kartu berobat gratis ke puskesmas untuk kader dan keluarganya dan juga dalam bentuk materi yang lain yang diberikan setiap tahun.

Para kader kesehatan yang bekerja dipedesaan membutuhkan pembinaan atau pelatihan dalam rangka menghadapi tugas-tugas mereka, masalah yang dihadapinya.

Pembinaan atau pelatihan tersebut dapat berlangsung selama 6-8 minggu atau bahkan lebih lama lagi. Salah satu tugas bidan dalam upaya menggerakkan peran serta masyarakat adalah melaksanakan pembinaan kader.

Adapun hal-hal yang perlu disampaikan dalam pembinaan kader adalah :

  1. Pemberitahuan ibu hamil untuk bersalin ditenaga kesehatan (promosi bidan siaga).
  2. Pengenalan tanda bahaya kehamilan, persalinan dan nifas serta rujukannya.
  3. Penyuluhan gzi dan keluarga berencana.
  4. Pencatatan kelahiran dan kematian bayi atau ibu.
  5. Promosi tabulin, donor darah berjalan, ambulan desa, suami siaga, satgas gerakan sayang ibu.

Pembinaan kader yang dilakukan bidan didalamnya berisi tentang peran kader adalah dalam daur kehidupan wanita dari mulai kehamilan sampai dengan masa perawatan bayi. Adapun hal-hal yang perlu disampaikan dalam persiapan persalinan adalah sebagai berikut :

  1. Sejak awal, ibu hamil dan suami menentukan persalinan ini ditolong oleh bidan atau dokter
  2. Suami atau keluarga perlu menabung untuk biaya persalinan.
  3. Ibu dan suami menanyakan ke bidan atau ke dokter kapan perkiraan tanggal persalinan.
  4. Jika ibu bersalin dirumah, suami atau keluarga perlu menyiapkan ruangan yang terang, tempat tidur dengan alas kain yang bersih, air bersih dan sabun untuk cuci tangan, handuk kain, pakaian kain yang bersih dan kering dan pakaian ganti ibu.

Pembinaan kader yang dilakukan bidan yang berisi tentang peran kader dalam deteksi dini tanda bahaya dalam kehamilan maupun hal-hal berikut ini.

  1. Perdarahan (hamil muda dan hamil tua).
  2. Bengkak dikaki, tangan, wajah, atau sakit kepala kadang disertai kejang.
  3. Demam tinggi.
  4. Keluar air ketuban sebelum waktunya.
  5. Bayi dalam kandungan gerakannya berkurang atau tidak bergerak.
  6. Ibu muntah terus dan tidak mau makan.
  7. Tugas Pokok Dan Fungsi Kader Unit Kesehatan Kerja

Kader unit kesehatan kerja (UKK) adalah pekerja, sukarela, yang bertugas meningkatkan kesehatan diri dan kelompoknya. Persyaratan yang harus dipenuhi sebagai kader UKK adalah dipilih dari, oleh masyarakat pekerja, bisa baca tulis, tinggal di lingkungan tempat bekerja, mau, mampu bekerja sukarela, mempunyai waktu, sudah dilatih kesehatan kerja dan mengikuti pelatihan  kader pos ukk.

Setelah terlatih sebagai kader UKK, ada 13 (tiga belas) tugas pokok dan fungsi (tupoksi) yang harus dijalankannya secara optimal, antara lain :

  1. Pertemuan tingkat pekerja (PTP) : mengadakan sosialisasi upaya kesehatan kerja di tempat kerja, merencanakan pelaksanaan survey mawas diri dan  musyawarah masyarakat pekerja
  2. Survey mawas diri (SMD) : pengenalan, pengumpulan, pengkajian masalah kesehatan pekerja untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat pekerja mengenai kesehatan kerja
  3. Musyawarah masyarakat pekerja (MMP) : mengenal masalah kesehatan dan keselamatan kerja, dengan pekerja, keluarga pekerja, petugas puskesmas, aparat pemerintah
  4. Membentuk pos UKK : menentukan pengurus  pos UKK,  jadwal kegiatan, rencana kerja tahunan, target, pembiayaan, lokasi dekat dengan tempat kerja
  5. Perencanaan UKK : menentukan masalah kesehatan kerja berdasarkan hasil smd, menentukan prioritas masalah, perkiraan biaya, jadwal, rencana, dan target kegiatan
  6. Penyuluhan ukk : materi tentang  gizi, PHBS, kebersihan lingkungan,  potensi, risiko bahaya, penggunaan APD (alat pelindung diri),  pengolahan limbah, penyakit dan kecelakaan akibat kerja
  7. Pemeriksaan kesehatan, P3K dan P3P : membantu petugas kesehatan, pemeriksaan ksehatan umum, pengadaan dan pengelolaan kartu kunjungan, formulir status kesehatan pekerja, membuat daftar penyakit akibat kerja, pemberian obat bebas pada penyakit ringan
  8. Upaya rujukan : merujuk segera pasien kecelakaan, dan penyakit berat yang tidak bisa tertangani.
  9. Pencatatan pelaporan : membuat laporan hasil pelaksanaan kegiatan pelayanan
  10. Kerjasama lintas sektoral : pertemuan berkala dengan anggota pos UKK, pertemuan rutin teratur dengan petugas, kunjungan rumah kepada pekerja, membantu kesulitan pekerja
  11. Mengelola sumber keuangan UKK : mengatur sumber pemasukan dan pengeluaran pos ukk
  12. Membantu pemberdayaan ekonomi pekerja : integrasi kegiatan ekonomi yang menguntungkan, pembentukan dan pengelolaan dana simpan pinjam (koperasi), pemberiaan kredit modal usaha, penyediaan  alat  kesehatan  kerja.
  13. Membina kemampuan diri : meningkatkan pengetahuan melalui pelatihan dan penataran, pertemuan rutin anggota UKK, kunjungan lapangan, melaksanakan  kegiatan  secara kontinyu

 

  1. PERTANYAAN
    1. Sebutkan dan jelaskan tujuan pembentukan kader kesehatan ?
    2. Sebutkan dan jelaskan persyaratan menjadi kader kesehatan ?
    3. Sebutkan dan jelaskan strategi menjaga eksistensi kader kesehatan ?

 

 

 

  1. PENUTUP/KESIMPULAN
  2. Kader merupakan tenaga masyarakat yang dianggap paling dekat dengan masyarakat, departemen kesehatan membuat kebijakan mengenai latihan untuk kader yang dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, menurunkan angka kematian ibu dan anak. Para kader kesehatan masyarakat itu seyogyanya memiliki latar belakang pendidikan yang cukup sehingga memungkinkan mereka untuk membaca, menulis dan menghitung secara sederhana.
  3. Secara disadari bahwa memilih kader yang merupakan pilihan masyarakat dan memdapat dukungan dari kepala desa setempat kadang-kadang tidak gampang. Namun bagaimanapun proses pemilihan kader ini hendaknya melalui musyawarah dengan masyarakat, sudah barang tentu para pamong desa harus juga mendukung.
  4. Kader kesehatan mempunyai peran yang besar dalam upanya meningkatkan kemampuan masyarakat menolong dirinya untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. Selain itu peran kader ikut membina masyarakat dalam bidang kesehatan dengan melalui kegiatan yang dilakukan baik di Posyandu.

 

  1. DAFTAR PUSTAKA
  2. H & Hasanbasri. M, (2008), Partisipasi Masyarakat Terhadap Praktik Kebidanan Komunitas, Studi Kasus Desa Timbulharjo Kecamatan Sewon Bantul, KMPK UGM, Working Paper Series No. 4, Januari 2008, First Draft. Yogjakarta.
  3. Syahlan, HJ. (1996), Kebidanan Komunitas, Yayasan Bina Sumber Daya Kesehatan, Jakarta.
  4. Ndraha, T. (1990), Pembangunan Masyarakat, Rineka Cipta, Jakarta.
  5. Notoatmodjo, S. (2005), Promosi Kesehatan: Teori dan Aplikasi, Rineka Cipta, Jakarta.
  6. Mayoux, L. (1995), Beyond Naivety: Women, Gender Inequality and Participatory Development, Development and Change, Institute of Social Studies, Netherland, Vol.26 No.2 p.235
  7. Abe, (2005), Perencanaan Daerah Partisipasi, Pustaka Jogja Mandiri, Yogyakarta.
  8. Effendi, N. (1998), Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat, EGC, Jakarta.
  9. Putu, 2010, 9 Macam Kader Kesehatan dalam Pelayanan Puskesmas, http://www.puskel.com/9-macam-kader-kesehatan-dalam-pelayanan-puskesmas/5 January 2010.
  10. Zulkifli, dr. MSi., 2003, Posyandu Dan Kader Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, ©2003 Digitized by USU digital library.

 

Kewenangan Bidan Sesuai Permenkes No 1464 Tahun 2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan

Published 12 Agustus 2014 by nurulekow

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 1464/Menkes/Per/X/2010 tentang Izin dan Penyelenggaran Praktik Bidan, kewenangan yang dimiliki bidan meliputi:

  1. Kewenangan normal :
    1. Pelayanan kesehatan ibu
    2. Pelayanan kesehatan anak
    3. Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana
  2. Kewenangan dalam menjalankan program Pemerintah.
  3. Kewenangan bidan yang menjalankan praktik di daerah yang tidak memiliki dokter.

 

Kewenangan normal adalah kewenangan yang dimiliki oleh seluruh bidan. Kewenangan ini meliputi:

  1. Pelayanan kesehatan ibu
    1. Ruang lingkup:
  • Pelayanan konseling pada masa pra hamil
  • Pelayanan antenatal pada kehamilan normal
  • Pelayanan persalinan normal
  • Pelayanan ibu nifas normal
  • Pelayanan ibu menyusui
  • Pelayanan konseling pada masa antara dua kehamilan
    1. Kewenangan:
  • Episiotomi
  • Penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II
  • Penanganan kegawat-daruratan, dilanjutkan dengan perujukan
  • Pemberian tablet Fe pada ibu hamil
  • Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas
  • Fasilitasi/bimbingan inisiasi menyusu dini (IMD) dan promosi air susu ibu (ASI) eksklusif
  • Pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan postpartum
  • Penyuluhan dan konseling
  • Bimbingan pada kelompok ibu hamil
  • Pemberian surat keterangan kematian
  • Pemberian surat keterangan cuti bersalin
  1. Pelayanan kesehatan anak
    1. Ruang lingkup:
  • Pelayanan bayi baru lahir
  • Pelayanan bayi
  • Pelayanan anak balita
  • Pelayanan anak pra sekolah
    1. Kewenangan:
  • Melakukan asuhan bayi baru lahir normal termasuk resusitasi, pencegahan hipotermi, inisiasi menyusu dini (IMD), injeksi vitamin K 1, perawatan bayi baru lahir pada masa neonatal (0-28 hari), dan perawatan tali pusat
  • Penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dan segera merujuk
  • Penanganan kegawatdaruratan, dilanjutkan dengan perujukan
  • Pemberian imunisasi rutin sesuai program Pemerintah
  • Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita dan anak pra sekolah
  • Pemberian konseling dan penyuluhan
  • Pemberian surat keterangan kelahiran
  • Pemberian surat keterangan kematian
  1. Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana, dengan kewenangan:
    1. Memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana
    2. Memberikan alat kontrasepsi oral dan kondom

 

Selain kewenangan normal sebagaimana tersebut di atas, khusus bagi bidan yang menjalankan program Pemerintah mendapat kewenangan tambahan untuk melakukan pelayanan kesehatan yang meliputi:

  1. Pemberian alat kontrasepsi suntikan, alat kontrasepsi dalam rahim, dan memberikan pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit
  2. Asuhan antenatal terintegrasi dengan intervensi khusus penyakit kronis tertentu (dilakukan di bawah supervisi dokter)
  3. Penanganan bayi dan anak balita sakit sesuai pedoman yang ditetapkan
  4. Melakukan pembinaan peran serta masyarakat di bidang kesehatan ibu dan anak, anak usia sekolah dan remaja, dan penyehatan lingkungan
  5. Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, anak pra sekolah dan anak sekolah
  6. Melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas
  7. Melaksanakan deteksi dini, merujuk dan memberikan penyuluhan terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk pemberian kondom, dan penyakit lainnya
  8. Pencegahan penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) melalui informasi dan edukasi
  9. Pelayanan kesehatan lain yang merupakan program Pemerintah

 

Khusus untuk pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit, asuhan antenatal terintegrasi, penanganan bayi dan anak balita sakit, dan pelaksanaan deteksi dini, merujuk, dan memberikan penyuluhan terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS) dan penyakit lainnya, serta pencegahan penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA), hanya dapat dilakukan oleh bidan yang telah mendapat pelatihan untuk pelayanan tersebut.

Selain itu, khusus di daerah (kecamatan atau kelurahan/desa) yang belum ada dokter, bidan juga diberikan kewenangan sementara untuk memberikan pelayanan kesehatan di luar kewenangan normal, dengan syarat telah ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Kewenangan bidan untuk memberikan pelayanan kesehatan di luar kewenangan normal tersebut berakhir dan tidak berlaku lagi jika di daerah tersebut sudah terdapat tenaga dokter.

Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas Dengan Endometritis

Published 9 Maret 2012 by nurulekow

PENGKAJIAN.

DATA SUBYEKTIF.

Identitas.

Pada kasus dengan endometritis sering terjadi pada :

  • Umur : < 20 tahun karena pada umur tersebut organ-organ reproduksinya belum matang dan belum berfungsi dengan baik, sedangkan pada umur > 35 tahun organ-organ reproduksi mulai menurun fungsinya sehingga sering terjadi endometritis.
  • Pekerjaan/penghasilan : Status social ekonomi rendah.
  • Suku/bangsa : Ras ASIA karena mempunyai kecenderungan lebih rentan terkena atau terpapar infeksi lebih sering daripada ras yang lain.

Keluhan utama.

Pada kasus dengan endometritis sering kali mengeluh :

  • Sakit kepala, sulit tidur, tidak nafsu makan.
  • Nyeri pada perut.
  • Pengeluaran pervaginam banyak/sedikit, berwarna merah/coklat, kadang-kadang berbau/tidak.
  • Suhu badan meningkat seringkali naik turun dan menggigil.

Riwayat kesehatan.

Pada kasus dengan endometritis sering ditemukan adanya : Semua keadaan yang menurunkan daya tahan penderita seperti perdarahan banyak, diabetes, pre-eklampsia, malnutrisi, anemia, kelelahan, juga infeksi lain yaitu pneumonia, penyakit jantung dan sebagainya.

Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu dan sekarang.

Pada kasus dengan endometritis sering ditemukan :

  • Sering terjadi pada 2-10 hari postpartum.
  • Proses persalinan bermasalah seperti partus lama/macet terutama dengan ketuban pecah lama, korioamnionitis, persalinan traumatic, kurang baiknya proses pencegahan infeksi dan manipulasi yang berlebihan.
  • Tindakan obstetric operatif baik pervaginam maupun perabdominam.
  • Tertinggalnya sisa plasenta, selaput ketuban dan bekuan darah dalam rongga rahim.
  • Episiotomi atau laserasi.
  • Tidak ada batasan pada primipara, multipara maupun grandemultipara.

Pola pemenuhan kebutuhan dasar masa nifas.

Pada kasus dengan endometritis didapatkan :

  • Pola nutrisi : adanya malnutrisi, anoreksia, anemia.
  • Pola istirahat : sulit tidur, sakit kepala.
  • Pola aktivitas : terganggu adanya nyeri pada perut dan pengeluaran pervaginam yang banyak dan berbau serta sakit kepala yang menyertai.
  • Pola personal hygiene : kurang terjaga dengan baik, hal ini dimungkinkan di karenakan dampak tidak langsung dari social ekonomi rendah.

Pengetahuan ibu masa nifas.

Pada kasus dengan endometritis didapatkan pengetahuannya :

  • Kurangnya pengetahuan tentang nutrisi sehingga terjadi malnutrisi dan anemia.
  • Kurangnya pengetahuan tentang personal hygiene terutama vulva hygiene yang merupakan salah satu factor penyebab terjadinya penyebaran infeksi sampai ke endometrium.
  • Kurangnya pengetahuan tentang perawatan masa nifas yang merupakan salah satu factor penyebab tidak langsung terjadinya infeksi pada masa nifas.

DATA OBYEKTIF.

Pemeriksaan umum.

Pada kasus dengan endometritis didapatkan :

  • Suhu : terjadi peningkatan suhu 38,5-400C, mulai dari 48 jam postpartum dan bersifat naik turun (remittens) serta menggigil. Jika infeksi tidak meluas, suhu turun berangsur-angsur dan normal pada hari ke 7-10 postpartum.
  • Nadi : biasanya sesuai dengan kurva tubuh, kadang ditemukan takikardi.
  • Muka : tampak pucat yang menyertai riwayat anemia.
  • Conjunctiva : tampak anemis yang menyertai riwayat anemia.

Pemeriksaan obstetric.

Pada kasus dengan endometritis didapatkan :

  • Sering ada subinvolusio à terjadi pada 2-10 hari postpartum.
  • Nyeri tekan pada uterus yang menyebar secara lateral, uterus agak membesar dan lembek, kontraksi kuat.
  • Lokea : tampak bertambah banyak/sedikit, berwarna merah atau coklat dan kadang-kadang berbau/tidak (lokea seropurulenta). Lokea yang berbau tidak selalu menyertai endometritis sebagai gejala.
  • Kadang-kadang lokea tertahan dalam uterus oleh darah sisa plasenta dan selaput ketuban yang disebut lokeametra.
  • Nyeri panggul dengan pemeriksaan bimanual.

Pemeriksaan penunjang.

Pada kasus dengan endometritis perlu dilakukan :

  • Leukosit : terjadi kenaikan antara 15.000 – 30.000/mm3.
  • Hemoglobin dan Hematokrit : mengalami penurunan pada keadaan anemia.
  • Kultur dari bahan intrauterus atau intraservical : ditemukan biakan Streptococus hemoliticus aerobia, Staphylococus aureus, Clostridium welchii, Escherichia colli.

INTERPRETASI DATA DASAR.

DIAGNOSA KEBIDANAN.

Ibu nifas umur < 20 tahun dan > 35 tahun, primipara/multipara/grandemultipara, 2-10 hari postpartum dengan endometritis.

MASALAH.

Tergantung kondisi masing-masing pasien.

DIAGNOSA POTENSIAL.

Salpingitis, tromboplebitis septic, peritonitis, fasiitis nekrotikans.

IDENTIFIKASI TINDAKAN SEGERA.

  • Melakukan konsultasi dengan dokter SpOG.
  • Melakukan kolaborasi dengan dokter SpOG.
  • Melakukan rujukan ke tempat pelayanan kesehatan yang lebih lengkap.

 

PLANNING.

  • Lakukan konsultasi dan kolaborasi dengan dokter SpOG untuk pemberian terapi.
  • Lakukan advis dokter SpOG untuk pemberian terapi :
  • Obat antimikroba spectrum luas termasuk sefalosporin (misal : cefoxitin, cefotetan), dan penisilin spectrum luas, atau inhibitor kombinasi penisilin/ betalaktamase (augmentin, unasyn).
  • Kombinasi klindamisin dan gentamisin, seperti metronidazol jika ibu tidak menyusui.
  • Obat analgesic dan antipiretik untuk menurunkan rasa nyeri dan demam.

KIE pada pasien :

  • Mobilisasi secara teratur.
  • Menjaga personal hygiene terutama pada genetalia.
  • Anjurkan pembersihan perineum yang benar setelah berkemih dan defekasi, cebok dari arah depan ke belakang.
  • Anjurkan agar sering mengganti pembalut setelah berkemih dan defekasi atau apabila pembalut sudah penuh.
  • Istirahat dengan posisi fowler.
  • Nutrisi cukup terutama tinggi protein untuk mempercepat proses penyembuhan.
  • Luka-luka dirawat dengan baik jangan sampai kena infeksi, begitu pula alat-alat dan pakaian serta kain yang berhubungan dengan alat kandungan harus steril.
  • Penderita dengan infeksi nifas sebaiknya diisolasi dalam ruangan khusus, tidak bercampur dengan ibu sehat.
  • Pengunjung-pengunjung dari luar hendaknya pada hari-hari pertama dibatasi sedapat mungkin.

IMPLEMENTASI.

Merupakan tindakan yang sesuai dengan yang telah direncanakan mencakup tindakan mandiri, kolaborasi dan rujukan.

EVALUASI.

Merupakan hasil perkembangan ibu dengan berpedoman kepada hasil dan tujuan yang hendak dicapai.

Konsep Dasar Etika

Published 9 Maret 2012 by nurulekow

Pengertian-pengertian dasar

1)        Etika

Etika adalah penerapan dari proses dan teori filsafat moral pada situasi nyata. Etika berpusat pada prinsip dasar dan konsep bahwa manusia dalam berfikir dan tindakannya didasari nilai-nilai (Wahyuningsih, 2006).

Etika adalah suatu cabang ilmu filsafat. Maka di dalam literatur, dinamakan juga filsafat moral, yaitu suatu sistem prinsip-prinsip tentang moral, tentang baik atau buruk. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa etika adalah disiplin yang mempelajari tentang baik atau buruk sikap tindakan manusia (Sofyan, dkk (Peny.), 2006).

Etika merupakan aplikasi atau penerapan teori tentang filosofi moral ke dalam situasi nyata dan berfokus pada prinsip-prinsip dan konsep yang membimbing manusia berfikir dan bertindak dalam kehidupannya yang dilandasi oleh nilai-nilai yang dianutnya (Pelatihan Keterampilan Manajerial SPMK, 2003).

Etika berarti ilmu tentang apa  yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan (Bertens, 2004).

Arti etika menurut K. Bertens dirumuskan sebagai berikut:

  • Kata etika dapat digunakan dalam arti nilai dan norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
  • Etika berati kumpulan asas atau moral, yang dimaksud di sini adalah kode etik.
  • Etika mempunyai arti ilmu tentang apa yang baik atau buruk (Soepardan, 2007).

2)        Moral

Moral adalah nilai-nilai dan norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Moral juga berarti mengenai apa yang dianggap baik atau buruk di masyarakat dalam suatu kurun waktu tertentu sesuai dengan perkembangan atau perubahan norma atau nilai (Wahyuningsih, 2006).

Moral adalah ajaran tentang baik atau buruknya yang diterima secara umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dll; akhlak, budi pekerti, susila (Soepardan, 2007).

3)        Etiket

Etiket berasal dari bahasa Inggris Etiquette. Etika berarti moral, sedangkan etiket berarti sopan santun. Persamaan etika dengan etiket adalah:

  • Sama-sama menyangkut perilaku manusia.
  • Memberi norma bagi perilaku manuia, yaitu menyatakan tentang apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan (Wahyuningsih, 2006).

4)        Kode etik

Kode etik merupakan suatu cairi profesi yang bersumber dari nilai-nilai internal dan eksternal suatu disiplin ilmu dan merupakan pernyataan konprehensif suatu profesi yang memberikan tuntutan bagi anggota dalam melaksanakan pengabdian profesi (Sofyan, dkk, 2006).

5)        Hukum

Hukum berhubungan erat dengan moral. Hukum membutuhkan moral. Hukum tidak mempunyai arti, kalau  tidak diijinkan oleh moralitas. Sebaliknya moral juga berhubungan erat adanya hukum. Moral hanya sebatas hal yang abstrak saja  tanpa adanya hukum (Wahyuningsih, 2006).

 

Pengenalan etika umum

1)        Hati nurani

Hati nurani akan memberikan penghayatan tentang baik atau buruk berhubungan dengan tingkah laku  nyata kita. Hati nurani memerintahkan atau melarang  kita untuk melakukan sesuatu sekarang dan di sini.

2)        Kebebasan dan tanggung  jawab

Terdapat hubungan timbal balik antara kebebasan dan tanggung jawab, sehingga pengertian manusia bebas dengan sendirinya menerima juga bahwa manusia itu bertanggung jawab. Tidak mungkin kebebasan tanpa tangung jawab atau sebaliknya.

3)        Nilai

Nilai merupakan sesuatu yang baik, menarik, dicari, menyenangkan, disukai, dan diinginkan. Menurut filsuf Jerman Hang Jones nilai adalah  the  addressee of a yes, sesuatu yang detunjukan dengan kata ya. Sesuatu yang kita iakan. Nilai mempunyai konotasi positif.

4)        Hak dan kewajiban

Hak merupakan pengakuan yang  dibuat oleh orang atau sekelompok orang terhadap orang atau sekelompok orang lain. Ada beberapa macam hak, antara lain hak legal dan moral. Hak legal merupakan hak yang didasarkan  atas hukum. Hak moral adalah didasarkan pada prinsip atau etis.

Setiap kewajiban seseorang berkaitan dengan hak orang lain dan setiap hak seseorang berkaitan dengan  kewajiban orang lain untuk memenuhi hak tersebut. Menurut John Stuart Mill bahwa kewajiban meliputi kewajiban sempurna dan kewajiban tidak sempurna. Kewajiban sempurna artinya kewajiban didasarkan atas keadilan, selalu terkait dengan hak orang lain. Sedangkan kewajiban tidak sempurna, tidak  terkait dengan hak orang lain tetapi bisa didasarkan atas kemurahan hati atau niat berbuat baik (Wahyuningsih, 2006).

 

Kebidanan

Kebidanan/Midwifery merupakan ilmu yang terbentuk dari sintesa berbagai disiplin ilmu (multi disiplin) yang terkait dengan pelayanan kebidanan, meliputi ilmu kedokteran,  ilmu keperawatan, ilmu sosial, ilmu perilaku, ilmu budaya, ilmu kesehatan masyarakat dan ilmu manajemen untuk dapat memberikan pelayanan kepada ibu dalam masa prakonsepsi, masa hamil, ibu bersalin, post partum, bayi baru lahir (Sofyan, dkk, 2006).

 

Prinsip etika dan moralitas

Etika

Etika dalam pelayanan kebidanan merupakan issu utama diberbagai tempat, dimana sering terjadi karena kurang pemahaman para praktisi pelayanan kebidanan terhadap etika. Bidan sebagai pemberi pelayanan harus menjamin pelayanan yang profesional dan akuntabilitas serta aspek legal dalam pelayanan kebidanan. Bidan sebagai praktisi pelayanan harus menjaga perkembangan praktek berdasarkan evidence based. Sehingga di sini berbagai dimensi etik dan bagaimana pendekatan tentang etika merupakan hal yang penting untuk digali dan dipahami.

Moralitas merupakan suatu gambaran manusiawi yang menyeluruh, moralitas hanya terdapat pada manusia serta tidak terdapat pada makhluk lain selain manusia. Moralitas adalah sifat moral atau seluruh asas dan nilai yang menyangkut baik buruk. Kaitan antara etika dan moralitas adalah, bahwa etika merupakan ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku dan moral atau ilmu yang membahas tentang moralitas.  Moral adalah mengenai  apa yang dinilai seharusnya oleh masyarakat.

Prinsip kode etik terdiri dari:

  • Menghargai otonomi
  • Melakukan tindakan yang benar
  • Mencegah tindakan yang merugikan
  • Memperlakukan manusia secara adil
  • Menjelaskan dengan benar
  • Menepati janji yang telah disepakati
  • Menjaga kerahasiaan (Wahyuningsih, 2006).

Kode etik profesi bidan

Seiring dengan kemajuan jaman, serta kemudahan dalam akses informasi, era globalisasi atau kesejagatan membuat akses informasi tanpa batas, serta peningkatan  ilmu pengetahuan dan teknologi membuat masyarakat semakin kritis. Di sisi lain menyebabkan timbulnya berbagai permasalahan etik. Selain itu perubahan gaya hidup, budaya, dan tata nilai masyarakat,  membuat masyarakat semakin peka menyikapi berbagai persoalan, termasuk penilaian terhadap pelayanan yang diberikan oleh bidan.

Kode etik profesi bidan hanya ditetapkan oleh organisasi profesi, Ikatan Bidan Indonesia (IBI). Penetapan harus dalam Kongres IBI. Kode etik profesi bidan akan mempunyai pengaruh dalam menegakkan disiplin di kalangan profesi bidan.

Issu etik dan moral

Kesadaran moral erat kaitannya dengan  nilai-nilai, keyakinan seseorang dan pada prinsipnya semua manusia dewasa tahu  akan hal yang baik dan yang buruk, inilah yang disebut suara hati. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berdampak pada perubahan pola pikir manusia. Masyarakat semakin kritis sehingga terjadi penguatan tuntutan terhadap mutu pelayanan kebidanan yang baik perlu dilandasan komitmen yang kuat dengan basis etik dan moral yang baik.

Dalam praktik kebidanan seringkali  bidan dihadapkan pada beberapa permasalahan yang dilematis, artinya pengambilan keputusan yang sulit yang berkaitan dengan etik. Dilema  muncul karena terbentur konflik moral, pertentangan batin atau pertentangan antara nilai-nilai yang diyakini bidan dengan kenyataan yang ada.

Beberapa permasalahan pembahasan etik dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut:

  1. Persetujuan dalam proses melahirkan.
  2. Memilih dan mengambil keputusan dalam persalinan.
  3. Kegagalan dalam proses persalinan.
  4. Pelaksanaan (Ultrasonogarfi) USG dalam kehamilan.
  5. Konsep normal pelayanan kebidanan.
  6. Bidan dan pendidikan seks (Sofyan, dkk, 2006).

Beberapa contoh mengenai etik dalam pelayanan kebidanan, adalah berhubungan dengan:

  1. Agama/kepercayaan.
  2. Hubungan dengan pasien.
  3. Kebenaran.
  4. Pengambilan keputusan.
  5. Pengambilan data.
  6. Kematian.
  7. Kerahasiaan.
  8. Aborsi.
  9. AIDS.
  10. Masalah etik moral dan dilema dalam praktek kebidanan

Tuntutan bahwa etik adalah hal penting dalam kebidanan salah satunya adalah karena bidan  merupakan profesi yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang dibuat sehubungan dengan klien serta harus mempunyai harus mempunyai tanggung jawab moral terhadap keputusan yang diambil. Untuk dapat menjalankan praktek kebidanan dengan baik tidak hanya dibutuhkan pengetahuan klinik yang baik, serta pengetahuan yang up to date, tetapi bidan juga harus mempunyai pemahaman isu etik dalam pelayanan kebidanan. Menurut Daryl Koehn dalam  The Ground of Professional Ethics, 1994 bahwa Bidan dikatakan profesional, bila menerapkan etika dalam menjalankan  praktek kebidanan. Bidan berada pada posisi yang baik, yaitu memfasilitasi pilihan klien dan membutuhkan peningkatan pengetahuan tentang etika  untuk menetapkan dalam strategi praktek kebidanan (Wahyuningsih, 2006).

Pengelompokan Zat Gizi – Cairan dan Elektrolit

Published 8 Maret 2012 by nurulekow

Pendahuluan.

Air merupakan sebagian besar zat pembentuk tubuh manusia. Jumlah air sekitar 73% dari bagian tubuh seseorang tanpa jaringan lemak (lean body mass). Tergantung jumlah lemak yang terdapat dalam tubuh, proporsi air ini berbeda antar orang. Pada orang gemuk, perbandingan antara air dan lemak sekitar 50% berbanding 50%. Pada pria normal, perbandingannya antara 60% berbanding 16 %. Pada orang kurus perbandingan tersebut adalah 67% dengan 7%. Pada bayi perbandingan tersebut sangat mencolok yaitu 78% dengan 0%. Dengan perkataan lain jumlah air yang terdapat dalam tubuh manusia adalah :

  • Sekitar 80% dari BB (untuk bayi dengan low birth weight).
  • Sekitar 70-75% dari BB (untuk bayi neonatus).
  • Sekitar 65% dari BB (untuk anak).
  • Sekitar 55-60% dari BB (untuk orang dewasa).

Fungsi Cairan dan Elektrolit.

Bagi orang dewasa, air berfungsi sebagai bahan pembangun di setiap sel tubuh. Cairan manusia memiliki fungsi yang sangat vital, yaitu untuk mengontrol suhu tubuh dan menyediakan lingkungan yang baik bagi metabolism. Cairan tubuh bersifat elektrolit (mengandung atom bermuatan listrik) dan alkalin (basa). Dengan demikian air digunakan dalam tubuh sebagai pelarut, bagian dari pelumas, pereaksi kimia, mengatur suhu tubuh, sebagai sumber mineral, serta membantu memelihara bentuk dan susunan tubuh. Air yang dibutuhkan manusia berasal dari makanan dan minuman serta pertukaran zat dalam tubuh.

Air mempunyai berbagai fungsi dalam proses vital tubuh, yaitu :

1)        Pelarut dan alat angkut.

Air dalam tubuh berfungsi sebagai pelarut zat-zat gizi berupa monosakarida, asam amino, lemak, vitamin dan mineral serta bahan-bahan lain yang diperlukan tubuh seperti oksigen dan hormon-hormon.

2)        Katalisator.

Air berperan sebagai katalisator dalam berbagai reaksi biologic dalam sel, termasuk di dalam saluran cerna. Air diperlukan pula untuk memecah atau menghidrolisis zat gizi kompleks menjadi bentuk-bentuk lebih sederhana.

3)        Pelumas.

Air berperan sebagai pelumas dalam cairan sendi-sendi tubuh.

4)        Fasilitator pertumbuhan.

Air sebagai bagian jaringan tubuh, diperlukan untuk pertumbuhan. Dalam hal ini air berperan sebagai zat pembangun.

5)        Pengatur suhu.

Karena kemampuan air untuk menyalurkan panas, air memegang peranan dalam mendistribusikan panas di dalam tubuh.

6)        Perendam benturan.

Air dalam mata, jaringan syaraf tulang belakang dan dalam kantung ketuban melindungi organ-organ tubuh dari benturan-benturan.

Kebutuhan Cairan dan Elektrolit.

Kebutuhan air sehari dinyatakan sebagai proporsi terhadap jumlah energy yang dikeluarkan tubuh dalam keadaan lingkungan rata-rata. Untuk orang dewasa dibutuhkan sebanyak 1,0-1,5 ml/kkal, sedangkan untuk bayi 1,5 ml/kkal.

Air yang ada di dalam tubuh diperoleh dari berbagai sumber yaitu :

  • Air yang di dapat dari minuman.
  • Air yang di dapat dari makanan.
  • Air yang di dapat dari sisa pembakaran karbohidrat, lemak dan protein.

Metabolisme Cairan dan Elektrolit.

Cairan tubuh merupakan media semua reaksi kimia di dalam sel. Tiap sel mengandung cairan intraselular (cairan di dalam sel) yang komposisinya paling cocok untuk sel tersebut dan berada di dalam cairan ekstraselular (cairan di luar sel) yang cocok pula. Cairan ekstraselular terdiri atas cairan interstitial atau interseluler berupa plasma darah. Semua cairan tubuh setiap waktu kehilangan dan mengalami penggantian bagian-bagiannya, namun komposisi cairan dalam tiap kompartemen dipertahankan agar selalu berada dalam keadaan homeostasis/tetap. Keseimbangan cairan di tiap kompartemen menentukan volume dan tekanan darah.

Keseimbangan cairan tubuh adalah keseimbangan antara jumlah cairan yang masuk dan keluar. Melalui mekanisme keseimbangan, tubuh berusaha agar cairan di dalam tubuh setiap waktu berada di dalam jumlah yang tetap/konstan. Ketidakseimbangan terjadi pada dehidrasi (kehilangan air secara berlebihan) dan intoksikasi air (kelebihan air). Konsumsi air terdiri atas air yang diminum dan air yang diperoleh dari makanan, serta air yang diperoleh sebagai hasil metabolisme. Air yang keluar dari tubuh termasuk yang dikeluarkan sebagai urine, air di dalam faeces dan air yang dikeluarkan melalui kulit dan paru-paru.

Masukan air

Jumlah (ml)

Ekskresi/

keluaran air

Jumlah (ml)

Cairan 550-1500 Ginjal 500-1400
Makanan 700-1000 Kulit 450-900
Air metabolik 200-300 Paru-paru 350
Faeces 150
1450-2800 1450-2800

Air dibuang dari tubuh melalui urine, keringat dan penguapan air melalui alat pernafasan yaitu sebagai sarana transportasi zat gizi dan oksigen ke seluruh tubuh. Aktivitas tubuh akan selalu mengeluarkan cairan dalam bentuk keringat, urine, faeces dan nafas. Tubuh akan kehilangan cairan sekitar 2,5 liter setiap hari.

Dalam proses pengaturan panas tubuh, air memegang peranan penting. Pembakaran unsur-unsur gizi di dalam tubuh mengakibatkan naiknya suhu badan. Untuk menurunkan panas badan menjadi normal kembali, sebagian air harus dikeluarkan dari lubang-lubang keringat. Untuk menguapkan air diperlukan panas dan panas ini diambil dari kelebihan panas tubuh yang diakibatkan pembakaran tadi, sehingga panas badan akan turun kembali.

Untuk menjaga agar kondisi dan fungsi cairan tubuh tidak terganggu, kehilangan tersebut harus diganti. Jika tubuh tidak cukup mendapatkan air atau kehilangan air hanya sekitar 5 % dari BB (pada anak, remaja, dan dewasa) maka keadaan ini telah membahayakan kehidupan seseorang atau dikenal sebagai dehidrasi berat. Dehidrasi akan mengakibatkan menurunnya volume plasma sehingga menimbulkan gangguan termoregulasi dan kerja jantung. Selanjutnya akan mempengaruhi kinerja tubuh secara keseluruhan. Dehidrasi juga menurunkan kemampuan system kardiovaskular dan pengaturan suhu tubuh. Dehidrasi berat menyebabkan kerja otak terganggu sehingga cenderung mengalami halusinasi. Dalam udara panas, jumlah air yang dikeluarkan lewat lubang keringat menjadi banyak untuk menurunkan suhu badan, sedangkan air yang dibuang lewat ginjal menjadi sedikit. Dengan cara demikian tubuh terhindar dari bahaya kekurangan air atau dehidrasi.

Elektrolit.

Senyawa kimia yang berasal dari makanan yang terlarut dalam cairan tubuh melalui proses ionisasi, akan terpecah menjadi bagian-bagian yang sangat kecil yang disebut elektrolit. Tidak semua senyawa kimia dari makanan akan terpecah menjadi elektrolit. Glucose, lipid dan protein tidak membentuk elektrolit. Hanya berbagai senyawa organic saja yang membentuk elektrolit, seperti Natrium, Kalium, Magnesium, Calsium, Chlor dan beberapa senyawa organic lain.

Natrium sebagai kation ekstraselular utama, natrium sangat bertanggung jawab untuk mengatur keseimbangan cairan. Kation ini juga mengatur permeabilitas sel dan gerakan air, elektrolit, glucose, insulin dan asam amino. Natrium sangat penting dalam keseimbangan asam-basa, transmisi saraf dan kepekaan otot. Berdasarkan beratnya 39% dari garam (natrium klorida) adalah natrium. Kira-kira 75% dari natrium yang dikonsumsi dalam diet berasal dari makanan yang diproses. Hanya 10% dari asupan natrium total adalah dari natrium yang terbentuk secara alamiah dalam makanan, seperti natrium dari susu dan sayuran tertentu. Jumlah minimum natrium yang dibutuhkan oleh orang dewasa sehat untuk menggantikan kehilangan yang normal hanya 115 mg/hari. Hampir semua natrium yang dikonsumsi diserap. Kehilangan natrium di dapat dengan menghilangkan kelebihan natrium dalam urine.

Kalium. Sebagian besar kalium tubuh terdapat di dalam sel sebagai kation utama cairan intraselular. Sisanya ada dalam cairan ekstraseluler, tempat ia bekerja untuk mempertahankan keseimbangan cairan, mempertahankan keseimbangan asam-basa, transmisi impuls saraf, mengkatalisasi reaksi metabolic dan pada metabolisme karbohidrat dan sistesis protein dan mengontrol kontraktilitas otot rangka. Perkiraan kebutuhan minimum kalium untuk orang dewasa sehat adalah 2000 mg/hari. Namun ada beberapa ahli menganjurkan asupan 3500 mg/hari karena peran protektif kalium terhadap hipertensi.

Klorida adalah anion utama dalam cairan ekstraseluler, yang membantu mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dalam kaitannya dengan natrium. Klorida adalah komponen esensial dari asam hidroklorida dalam lambung dan karenanya memainkan peran dalam pencernaan dan keseimbangan asam-basa. Hamper semua klorida dalam diet berasal dari garam (natrium klorida).

Elektrolit ada dalam cairan ekstra cairan intraseluler. Cairan intraseluler dan ekstraseluler dipisahkan oleh dinding sel yang tipis yang bersifat permeable. Jika terjadi perbedaan konsentrasi elektrolit di salah satu pihak, maka akan timbul tekanan yang mendorong terjadinya perpindahan elektrolit itu. Tekanan itu disebut tekanan osmose. Melalui cara ini akan selalu terjadi keseimbangan elektrolit dalam tubuh. Tekanan osmose pada cairan ekstraseluler disebabkan ion Na, sedang tekanan osmose pada cairan intraseluler disebabkan oleh adanya ion Kalium.

Skema distribusi cairan dan elektrolit di dalam tubuh.

Cairan tubuh total = 45 liter

Ekstraselular = 15 liter

Intraselular = 30 liter

Darah/intervaskuler =

3 liter

Na : K = 28 : 1

Interseluler/interstitial = 12 liter

Na : K = 28 : 1

Na : K = 1 : 10

DAFTAR PUSTAKA

  1. Almatsier, S. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2001.
  2. Francin, P. Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi. EGC, Jakarta, 2005.
  3. Lusa, Konsep Dasar Ilmu Gizi, http://www.lusa.web.id/, tanggal upload 23 Agustus 2009, tanggal download 18 Februari 2012, 10.54 WIB.
  4. Moehji, S. Ilmu Gizi. Jilid I. Bhatara Karya Pustaka, Jakarta, 2003.
  5. Supariasa, I. Penilaian Status Gizi. EGC, Jakarta, 2002.
  6. Yuniastuti, A. Gizi dan Kesehatan, Graha Ilmu,Yogyakarta, 2008.

Pengelompokan Zat Gizi – Mineral

Published 8 Maret 2012 by nurulekow

Pendahuluan.

Mineral adalah senyawa alami yang terbentuk melalui proses geologis. Istilah mineral termasuk tidak hanya bahan komposisi kimia tetapi juga struktur mineral. Mineral termasuk dalam komposisi unsur murni dan garam sederhana sampai silikat yang sangat kompleks dengan ribuan bentuk yang diketahui (senyawaan organik biasanya tidak termasuk). Ilmu yang mempelajari mineral disebut mineralogi.

Kira-kira 6% tubuh manusia dewasa terbuat dari mineral. Mineral yang dibutuhkan oleh manusia diperoleh dari tanah. Tanaman sumber pangan menyerap mineral yang diperlukan dan menyimpannya dalam struktur tanaman. Hewan sebagai konsumen tingkat pertama menggunakan dan menyimpan mineral dalam tubuhnya. Sebagai konsumen tingkat akhir, manusia memperoleh mineral dari pangan nabati dan hewani. Mineral merupakan bahan anorganik dan bersifat esensial. Jika mineral tidak habis digunakan oleh manusia, maka akan dikeluarkan oleh tubuh dan dikembalikan pada tanah.

Jenis Mineral.

1)        Makroelemen, yang terdapat dalam kwantum yang relative besar (> 0,05% dari BB). Berfungsi sebagai bagian dari zat yang aktif dalam metabolisme atau sebagai bagian penting dari struktur sel dan jaringan.

a)         Kalium (K).

Fungsi sebagai faktor utama dalam mempertahankan keseimbangan cairan intrasel. Mempengaruhi irama jantung, berperan dalam pengaturan kepekaan saraf dan otot. Sumber : daging, ikan, unggas, tepung, buah-buahan dan sayuran.

Defisiensi kalium jarang terjadi akibat kekurangan makanan, biasanya terjadi mual, muntah dan diare.

b)        Natrium (Na).

Fungsi sebagai faktor utama dalam mempertahankan keseimbangan cairan ekstrasel. Berperan dalam pengaturan kepekaan otot dan saraf. Sumber : garam dapur, daging, ikan, unggas, susu dan telur.

Defisiensi natrium dapat menyebabkan mual, diare, kejang otot dan dehidrasi.

c)         Kalsium (Ca).

Fungsi sebagai unsur utama tulang dan gigi. Penting untuk kontraksi otot, irama jantung normal dan kepekaan saraf, pengaktifan beberapa enzim. Unsur mineral yang terbanyak dalam tubuh. Sumber : susu, lobak cina, kangkung, tiram, udang, salem, kijing.

Konsumsi kalsium yang berlebihan dapat menyebabkan sulit buang air besar (konstipasi) dan mengganggu penyerapan mineral seperti zat besi, seng dan tembaga. Kelebihan kalsium dalam jangka panjang akan meningkatkan risiko terkena hypercalcemia, pembentukan batu ginjal dan gangguan fungsi ginjal. Oleh karena itu konsumsi suplemen kalsium jauh di atas kebutuhan sebaiknya dihindari.

Sedangkan defisiensi kalsium dapat menyebabkan mineralisasi tulang dan gigi terganggu, tulang mudah patah, pertumbuhan terhenti, rakhitis pada anak-anak, osteoporosis pada orang dewasa.

d)        Magnesium (Mg).

Fungsi sebagai unsur tulang dan gigi, dan banyak jaringan lainnya, mempengaruhi kepekaan otot dan saraf. Sumber : tepung gandum, kakao, kacang-kacangan, daging, makanan dari laut dan susu.

Kelebihan magnesium dalam jangka panjang sama dampaknya dengan kekurangan magnesium yaitu gangguan fungsi saraf (neurological disturbance). Gejala awal kelebihan magnesium adalah mual, muntah, penurunan tekanan darah, perubahan elektro kardiografik dan kelambanan reflex.

Defisiensi magnesium karena makanan tidak ditemukan, tetapi ditemukan defisiensi pada alkoholisme dengan sirosis dan penyakit ginjal yang berat.

e)         Fosfor (P).

Fungsi sebagai unsur utama tulang dan gigi. Metabolisme lemak dan karbohidrat dan pertukaran energy melalui reaksi oksidatif berhubungan dengan fosforilasi. Sumber : susu, keju, kuning telur, daging ikan, unggas, kacang-kacangan.

Penggunaan fosfor oleh tubuh salah satunya ditentukan oleh rasio antara kalsium dan fosfor, yang idealnya bagi remaja dan orang dewasa adalah 1:1. Kelebihan fosfor terjadi bila rasio kalsium fosfor lebih kecil dari ½ atau 1:2. Kelebihan fosfor dapat mengganggu penyerapan mineral seperti tembaga dan seng serta dapat pula memicu timbulnya hypocalcemia.

Sedangkan defisiensi fosfor dapat menyebabkan mineralisasi tulang terganggu, pertumbuhan terhambat, rakhitis, osteomalasia.

f)         Sulfur (S).

Fungsi sebagai pembentukan asam amino sistein dan mentionin. Pembentuk protein rambut, terdapat juga dalam insulin dan glutation. Sumber : susu, telur, daging, keju, dan kacang-kacangan. Defisiensi sulfur jarang terjadi pada manusia.

g)        Khlor (Cl).

Fungsi sebagai unsur getah lambung. Keseimbangan asam-basa, bersama-sama dengan natrium dan kalium membantu mempertahankan kadar air tubuh normal. Sumber : garam dapur, daging, susu, telur. Defisiensi khlor jarang terjadi pada manusia.

2)        Mikroelemen, yang terdapat dalam kwantum yang relative sedikit (< 0,05% dari BB). Mikro-elemen dapat dkelompokkan lagi menurut kegunaannya di dalam tubuh :

a)         Mikroelemen esensial, yaitu yang benar-benar diperlukan dalam tubuh, jadi harus ada, seperti :

  • Ferum (Fe).

Fungsi sebagai unsure hemoglobin, mioglobin dan beberapa enzim oksidatif. Terdapat dalam semua sel tubuh, tetapi disimpan sebagai ferritin dalam hati, limpa dan sumsum tulang dan terutama dalam jaringan retikulo endothelial. Sumber : hati, daging dan kuning telur, sayuran berdaun hijau tua, tiram, udang, salem, kijing.

Kelebihan zat besi dapat menurunkan penyerapan dan penggunaan seng dan tembaga serta peningkatan penggunaan vitamin antioksidan. Kelebihan zat besi juga dapat menyebabkan gangguan fungsi hati, jantung bahkan meninggal dunia. Gejalanya adalah mual, muntah, diare, denyut jantung meningkat, sakit kepala, mengigau.

Defisiensi Fe dapat menyebabkan anemia defisiensi besi, gangguan fungsional tubuh, baik mental maupun fisik, pucat, rasa lemah, letih, pusing, kurang nafsu makan, menurunnya angka kebugaran tubuh, menurunnya kemampuan kerja, menurunnya kekebalan tubuh dan gangguan penyembuhan luka, kemampuan mengatur suhu tubuh menurun. Pada anak-anak menimbulkan apatis, mudah tersinggung, menurunnya kemampuan untuk berkonsentrasi dan belajar.

  • Kuprum (Cu).

Berperan penting untuk sintesis hemoglobin dan untuk pekerjaan enzim-enzim tertentu (missal : sitokrom oksidase, tirosinase, katalase, urikase, asam askorbat oksidase, monoamine oksidase). Mungkin berperan dalam pembentukan tulang dan mempertahankan myelin. Sumber : hati, tiram, daging ikan, kacang-kacangan dan tepung gandum.

Kelebihan tembaga secara kronis menyebabkan penumpukan tembaga di dalam hati yang dapat menyebabkan nekrosis hati dan serosis hati. Kelebihan tembaga dapat terjadi karena mengkonsumsi suplemen tembaga atau menggunakan alat memasak terbuat dari tembaga, terutama apabila digunakan untuk memasak cairan yang bersifat asam. Konsumsi sebanyak 10-15 mg/hari dapat menimbulkan muntah-muntah dan diare. Berbagai tahap pendarahan intravascular dapat terjadi, begitupun nekrosis sel hati dan gagal ginjal. Konsumsi dosis tinggi menyebabkan kematian.

Defisiensi tembaga dapat menyebabkan bayi gagal tumbuh kembang, edema dengan serum albumin rendah, gangguan fungsi kekebalan, menghambat pembentukan hemoglobin, anemia dengan perubahan pada metabolism besi dan perubahan pada jaringan tulang, perubahan pada kerangka tubuh yang dapat menyebabkan patah tulang dan osteoporosis, hernia dan pelebaran pembuluh darah karena kegagalan pengikatan-silang kolagen dan elastin, depigmentasi rambut dan kulit.

  • Kobalt (Co).

Kobalt merupakan elemen renik yang juga esensial bagi tubuh, karena merupakan komponen dari struktur vitamin B12. Meskipun demikian, metabolism kobalt tidak terjadi di dalam jaringan tubuh kita, karena vitamin B12 tidak dapat disintesis olehnya, tetapi dapat disintesis oleh mikroflora usus. Kobalt yang dikonsumsi masih dapat bermanfaat bagi sintesis vitamin ini oleh mikroflora dan tersedia untuk dipergunakan oleh tubuh manusia.

Defisiensi kobalt tidak dikenal oleh manusia dan tidak pernah dilaporkan, yang terdapat adalah defisiensi vitamin B12 dan pengobatan dilakukan dengan pemberian vitamin B12 dan tidak pernah dengan memberikan kobalt.

  • Selenium (Se).

Fungsi untuk memperbaiki pertumbuhan dan mencegah penyakit tertentu. Factor penting dalam pernafasan jaringan. Sebagai antioksidan. Sumber : ikan laut, kerang-kerangan, kadarnya dalam pangan nabati tergantung pada kandungan selenium dalam tanah tempat tanaman tersebut tumbuh.

Pengaruh negatif selenium bagi kesehatan ditemukan pada orang yang mengkomsumsi diatas 850 mg/hari yang ditandai dengan oleh mual, muntah dan diare. Bila konsumsi diatas 500 mg/hari akan terjadi perubahan pada kuku dan rambut yang pada akhirnya terjadi kerontokan rambut.

Defisiensi selenium dapat menyebabkan aktivitas enzim glutation peroksidase terhambat, kekebalan tubuh menurun.

  • Zink (Zn).

Berperan dalam bekerjanya lebih dari 200 jenis enzim. Sebagai antioksidan dan berperan dalam fungsi membrane. Sumber : tiram, makanan laut, hati, lembaga gandum, ragi, daging, telur, unggas, ikan.

Konsumsi seng secara berlebihan (10 kali anjuran) dapat terjadi karena konsumsi suplemen seng dan makanan yang terkena polusi (udara, alat masak dan kaleng). Kelebihan seng akan menurunkan penyerapan zat besi dan tembaga, mual, diare, pusing, melemahnya peran saraf yang mengkoordinasikan system kerja anggota badan, demam, kelelahan yang sangat, anemia, gangguan reproduksi dan gangguan pada fungsi hati dan imunitas tubuh. Kelebihan sampai 10 kali AKG mempengaruhi metabolisme kolesterol, mengubah nilai lipoprotein dan tampaknya dapat mempercepat timbulnya aterosklerosis.

Defisiensi zink dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat, gangguan kematangan seksual dan daya kekebalan tubuh menurun. Gangguan fungsi pencernaan karena gangguan fungsi pancreas, gangguan pembentukan kilomikron dan kerusakan permukaan saluran cerna. Gangguan metabolisme vitamin A, gangguan kelenjar tiroid dan laju metabolisme, gangguan nafsu makan, penurunan ketajaman indra rasa serta memperlambat penyembuhan luka.

  • Yodium (I).

Fungsi sebagai unsur tiroksin. Sumber : garam beriodium dan makanan laut.

Konsumsi yodium diatas 2000 mg/hari dianggap berlebihan dan akan berdampak negative pada kesehatan manusia. Konsumsi sebanyak ini bisa terjadi karena mengkonsumsi rumput laut, suplemen atau pangan yang difortifikasi yodium secara berlebihan. Kelebihan yodium dapat menghambat pelepasan iodium dari tiroid. Kelebihan pada tingkat selanjutnya akan menimbulkan gondok seperti halnya kekurangan yodium.

Defisiensi yodium dapat menyebabkan gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) berupa gangguan fisik dan mental, gondok, kretin (IQ = 20), malas dan lamban, kelenjar tiroid membesar. Pada ibu hamil dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin. Pada anak-anak menyebabkan kemampuan belajar rendah dan lain-lain.

  • Fluor (F).

Berperan terutama dalam tulang dan gigi. Sumber : air minum yang cukup kandungan fluor.

Kelebihan fluor dapat menyebabkan keracunan. Hal ini baru terjadi pada dosis sangat tinggi atau setelah bertahun-tahun menggunakan suplemen fluor sebanyak 20-80 mg/hari. Gejalanya adalah fluorosis (perubahan warna gigi menjadi kekuningan), mulas, diare, sakit di daerah dada, gatal dan muntah.

Defisiensi fluor dapat menyebabkan karies dentis, membantu mencegah osteoporosis.

b)        Mikroelemen yang mungkin esensial, belum pasti benar diperlukan atau tidak di dalam struktur atau fisiologis tubuh, seperti : krom (Cr) dan molybdenum (Mo).

c)         Mikroelemen yang tidak diperlukan atau nonesensial. Jenis ini terdapat di dalam tubuh karena terbawa tidak sengaja bersama bahan makanan, jadi sebagai kontaminan (pencemar). Termasuk ke dalam kelompok ini adalah aluminium (Al), arsen (As), barium (Ba), boron (B), plumbum (Pb), cadmium (Cd), nikel (Ni), silicon (Si), strontium (sr), vanadium (V) dan bromine (Br).

3)        Ada lagi kelompok yang disebut elemen renik, yang sebenarnya sudah termasuk kelompok mikroelemen, tetapi diperlukan dalam kwantum yang lebih kecil lagi. Ke dalam kelas ini termasuk kobalt (Co), kuprum (Cu) dan zink (Zn).

Fungsi Mineral.

  1. Memelihara keseimbangan asam tubuh dengan jalan penggunaan mineral pembentuk asam (klorin, fosfor, belerang) dan mineral pembentuk basa (kapur, besi, magnesium, kalium, natrium).
  2. Mengkatalisasi reaksi yang bertalian dengan pemecahan karbohidrat, lemak dan protein serta pembentukan lemak dan protein tubuh.
  3. Sebagai hormone (iodium terlibat dalam pembuatan hormone tiroksin, kobalt dalam vitamin B12, kalsium dan fosfor untuk pembentukan tulang dan gigi) dan enzim tubuh (Fe terlibat dalam aktivitas enzim katalase dan sitokrom).
  4. Membantu memelihara keseimbangan air tubuh (klorin, kalium, natrium).
  5. Menolong dalam pengiriman isyarat ke seluruh tubuh (kalsium, kalium, natrium).
  6. Sebagai bagian cairan usus (kalsium, magnesium, kalium dan natrium).
  7. Berperan dalam pertumbuhan dan pemeliharaan tulang, gigi dan jaringan tubuh lainnya (kalsium, fosfor, fluorin).

DAFTAR PUSTAKA

  1. Almatsier, S. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2001.
  2. Francin, P. Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi. EGC, Jakarta, 2005.
  3. Lusa, Konsep Dasar Ilmu Gizi, http://www.lusa.web.id/, tanggal upload 23 Agustus 2009, tanggal download 18 Februari 2012, 10.54 WIB.
  4. Moehji, S. Ilmu Gizi. Jilid I. Bhatara Karya Pustaka, Jakarta, 2003.
  5. Supariasa, I. Penilaian Status Gizi. EGC, Jakarta, 2002.
  6. Yuniastuti, A. Gizi dan Kesehatan, Graha Ilmu,Yogyakarta, 2008.