Pengelompokan Zat Gizi – Cairan dan Elektrolit

Published 8 Maret 2012 by nurulekow

Pendahuluan.

Air merupakan sebagian besar zat pembentuk tubuh manusia. Jumlah air sekitar 73% dari bagian tubuh seseorang tanpa jaringan lemak (lean body mass). Tergantung jumlah lemak yang terdapat dalam tubuh, proporsi air ini berbeda antar orang. Pada orang gemuk, perbandingan antara air dan lemak sekitar 50% berbanding 50%. Pada pria normal, perbandingannya antara 60% berbanding 16 %. Pada orang kurus perbandingan tersebut adalah 67% dengan 7%. Pada bayi perbandingan tersebut sangat mencolok yaitu 78% dengan 0%. Dengan perkataan lain jumlah air yang terdapat dalam tubuh manusia adalah :

  • Sekitar 80% dari BB (untuk bayi dengan low birth weight).
  • Sekitar 70-75% dari BB (untuk bayi neonatus).
  • Sekitar 65% dari BB (untuk anak).
  • Sekitar 55-60% dari BB (untuk orang dewasa).

Fungsi Cairan dan Elektrolit.

Bagi orang dewasa, air berfungsi sebagai bahan pembangun di setiap sel tubuh. Cairan manusia memiliki fungsi yang sangat vital, yaitu untuk mengontrol suhu tubuh dan menyediakan lingkungan yang baik bagi metabolism. Cairan tubuh bersifat elektrolit (mengandung atom bermuatan listrik) dan alkalin (basa). Dengan demikian air digunakan dalam tubuh sebagai pelarut, bagian dari pelumas, pereaksi kimia, mengatur suhu tubuh, sebagai sumber mineral, serta membantu memelihara bentuk dan susunan tubuh. Air yang dibutuhkan manusia berasal dari makanan dan minuman serta pertukaran zat dalam tubuh.

Air mempunyai berbagai fungsi dalam proses vital tubuh, yaitu :

1)        Pelarut dan alat angkut.

Air dalam tubuh berfungsi sebagai pelarut zat-zat gizi berupa monosakarida, asam amino, lemak, vitamin dan mineral serta bahan-bahan lain yang diperlukan tubuh seperti oksigen dan hormon-hormon.

2)        Katalisator.

Air berperan sebagai katalisator dalam berbagai reaksi biologic dalam sel, termasuk di dalam saluran cerna. Air diperlukan pula untuk memecah atau menghidrolisis zat gizi kompleks menjadi bentuk-bentuk lebih sederhana.

3)        Pelumas.

Air berperan sebagai pelumas dalam cairan sendi-sendi tubuh.

4)        Fasilitator pertumbuhan.

Air sebagai bagian jaringan tubuh, diperlukan untuk pertumbuhan. Dalam hal ini air berperan sebagai zat pembangun.

5)        Pengatur suhu.

Karena kemampuan air untuk menyalurkan panas, air memegang peranan dalam mendistribusikan panas di dalam tubuh.

6)        Perendam benturan.

Air dalam mata, jaringan syaraf tulang belakang dan dalam kantung ketuban melindungi organ-organ tubuh dari benturan-benturan.

Kebutuhan Cairan dan Elektrolit.

Kebutuhan air sehari dinyatakan sebagai proporsi terhadap jumlah energy yang dikeluarkan tubuh dalam keadaan lingkungan rata-rata. Untuk orang dewasa dibutuhkan sebanyak 1,0-1,5 ml/kkal, sedangkan untuk bayi 1,5 ml/kkal.

Air yang ada di dalam tubuh diperoleh dari berbagai sumber yaitu :

  • Air yang di dapat dari minuman.
  • Air yang di dapat dari makanan.
  • Air yang di dapat dari sisa pembakaran karbohidrat, lemak dan protein.

Metabolisme Cairan dan Elektrolit.

Cairan tubuh merupakan media semua reaksi kimia di dalam sel. Tiap sel mengandung cairan intraselular (cairan di dalam sel) yang komposisinya paling cocok untuk sel tersebut dan berada di dalam cairan ekstraselular (cairan di luar sel) yang cocok pula. Cairan ekstraselular terdiri atas cairan interstitial atau interseluler berupa plasma darah. Semua cairan tubuh setiap waktu kehilangan dan mengalami penggantian bagian-bagiannya, namun komposisi cairan dalam tiap kompartemen dipertahankan agar selalu berada dalam keadaan homeostasis/tetap. Keseimbangan cairan di tiap kompartemen menentukan volume dan tekanan darah.

Keseimbangan cairan tubuh adalah keseimbangan antara jumlah cairan yang masuk dan keluar. Melalui mekanisme keseimbangan, tubuh berusaha agar cairan di dalam tubuh setiap waktu berada di dalam jumlah yang tetap/konstan. Ketidakseimbangan terjadi pada dehidrasi (kehilangan air secara berlebihan) dan intoksikasi air (kelebihan air). Konsumsi air terdiri atas air yang diminum dan air yang diperoleh dari makanan, serta air yang diperoleh sebagai hasil metabolisme. Air yang keluar dari tubuh termasuk yang dikeluarkan sebagai urine, air di dalam faeces dan air yang dikeluarkan melalui kulit dan paru-paru.

Masukan air

Jumlah (ml)

Ekskresi/

keluaran air

Jumlah (ml)

Cairan 550-1500 Ginjal 500-1400
Makanan 700-1000 Kulit 450-900
Air metabolik 200-300 Paru-paru 350
Faeces 150
1450-2800 1450-2800

Air dibuang dari tubuh melalui urine, keringat dan penguapan air melalui alat pernafasan yaitu sebagai sarana transportasi zat gizi dan oksigen ke seluruh tubuh. Aktivitas tubuh akan selalu mengeluarkan cairan dalam bentuk keringat, urine, faeces dan nafas. Tubuh akan kehilangan cairan sekitar 2,5 liter setiap hari.

Dalam proses pengaturan panas tubuh, air memegang peranan penting. Pembakaran unsur-unsur gizi di dalam tubuh mengakibatkan naiknya suhu badan. Untuk menurunkan panas badan menjadi normal kembali, sebagian air harus dikeluarkan dari lubang-lubang keringat. Untuk menguapkan air diperlukan panas dan panas ini diambil dari kelebihan panas tubuh yang diakibatkan pembakaran tadi, sehingga panas badan akan turun kembali.

Untuk menjaga agar kondisi dan fungsi cairan tubuh tidak terganggu, kehilangan tersebut harus diganti. Jika tubuh tidak cukup mendapatkan air atau kehilangan air hanya sekitar 5 % dari BB (pada anak, remaja, dan dewasa) maka keadaan ini telah membahayakan kehidupan seseorang atau dikenal sebagai dehidrasi berat. Dehidrasi akan mengakibatkan menurunnya volume plasma sehingga menimbulkan gangguan termoregulasi dan kerja jantung. Selanjutnya akan mempengaruhi kinerja tubuh secara keseluruhan. Dehidrasi juga menurunkan kemampuan system kardiovaskular dan pengaturan suhu tubuh. Dehidrasi berat menyebabkan kerja otak terganggu sehingga cenderung mengalami halusinasi. Dalam udara panas, jumlah air yang dikeluarkan lewat lubang keringat menjadi banyak untuk menurunkan suhu badan, sedangkan air yang dibuang lewat ginjal menjadi sedikit. Dengan cara demikian tubuh terhindar dari bahaya kekurangan air atau dehidrasi.

Elektrolit.

Senyawa kimia yang berasal dari makanan yang terlarut dalam cairan tubuh melalui proses ionisasi, akan terpecah menjadi bagian-bagian yang sangat kecil yang disebut elektrolit. Tidak semua senyawa kimia dari makanan akan terpecah menjadi elektrolit. Glucose, lipid dan protein tidak membentuk elektrolit. Hanya berbagai senyawa organic saja yang membentuk elektrolit, seperti Natrium, Kalium, Magnesium, Calsium, Chlor dan beberapa senyawa organic lain.

Natrium sebagai kation ekstraselular utama, natrium sangat bertanggung jawab untuk mengatur keseimbangan cairan. Kation ini juga mengatur permeabilitas sel dan gerakan air, elektrolit, glucose, insulin dan asam amino. Natrium sangat penting dalam keseimbangan asam-basa, transmisi saraf dan kepekaan otot. Berdasarkan beratnya 39% dari garam (natrium klorida) adalah natrium. Kira-kira 75% dari natrium yang dikonsumsi dalam diet berasal dari makanan yang diproses. Hanya 10% dari asupan natrium total adalah dari natrium yang terbentuk secara alamiah dalam makanan, seperti natrium dari susu dan sayuran tertentu. Jumlah minimum natrium yang dibutuhkan oleh orang dewasa sehat untuk menggantikan kehilangan yang normal hanya 115 mg/hari. Hampir semua natrium yang dikonsumsi diserap. Kehilangan natrium di dapat dengan menghilangkan kelebihan natrium dalam urine.

Kalium. Sebagian besar kalium tubuh terdapat di dalam sel sebagai kation utama cairan intraselular. Sisanya ada dalam cairan ekstraseluler, tempat ia bekerja untuk mempertahankan keseimbangan cairan, mempertahankan keseimbangan asam-basa, transmisi impuls saraf, mengkatalisasi reaksi metabolic dan pada metabolisme karbohidrat dan sistesis protein dan mengontrol kontraktilitas otot rangka. Perkiraan kebutuhan minimum kalium untuk orang dewasa sehat adalah 2000 mg/hari. Namun ada beberapa ahli menganjurkan asupan 3500 mg/hari karena peran protektif kalium terhadap hipertensi.

Klorida adalah anion utama dalam cairan ekstraseluler, yang membantu mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dalam kaitannya dengan natrium. Klorida adalah komponen esensial dari asam hidroklorida dalam lambung dan karenanya memainkan peran dalam pencernaan dan keseimbangan asam-basa. Hamper semua klorida dalam diet berasal dari garam (natrium klorida).

Elektrolit ada dalam cairan ekstra cairan intraseluler. Cairan intraseluler dan ekstraseluler dipisahkan oleh dinding sel yang tipis yang bersifat permeable. Jika terjadi perbedaan konsentrasi elektrolit di salah satu pihak, maka akan timbul tekanan yang mendorong terjadinya perpindahan elektrolit itu. Tekanan itu disebut tekanan osmose. Melalui cara ini akan selalu terjadi keseimbangan elektrolit dalam tubuh. Tekanan osmose pada cairan ekstraseluler disebabkan ion Na, sedang tekanan osmose pada cairan intraseluler disebabkan oleh adanya ion Kalium.

Skema distribusi cairan dan elektrolit di dalam tubuh.

Cairan tubuh total = 45 liter

Ekstraselular = 15 liter

Intraselular = 30 liter

Darah/intervaskuler =

3 liter

Na : K = 28 : 1

Interseluler/interstitial = 12 liter

Na : K = 28 : 1

Na : K = 1 : 10

DAFTAR PUSTAKA

  1. Almatsier, S. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2001.
  2. Francin, P. Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi. EGC, Jakarta, 2005.
  3. Lusa, Konsep Dasar Ilmu Gizi, http://www.lusa.web.id/, tanggal upload 23 Agustus 2009, tanggal download 18 Februari 2012, 10.54 WIB.
  4. Moehji, S. Ilmu Gizi. Jilid I. Bhatara Karya Pustaka, Jakarta, 2003.
  5. Supariasa, I. Penilaian Status Gizi. EGC, Jakarta, 2002.
  6. Yuniastuti, A. Gizi dan Kesehatan, Graha Ilmu,Yogyakarta, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: