PEMBINAAN KADER KESEHATAN

Published 12 Agustus 2014 by nurulekow
  1. Pendahuluan

Dalam rangka menuju masyarakat yang adil dan makmur maka pembangunan dilakukan di segala bidang. Pembangunan bidang kesehatan yang merupakan bagian integral dari penbangunan nasional yang secara keseluruhannya perlu digalakkan pula. Hal ini telah digariskan dalm sistem kesehatan nasional antara lain disebutkan bahwa, sebagai tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk atau individu agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal, sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan pembangunan nasional.

Selanjutnya pembangunan dibidang kesehatan mempunyai arti yang penting dalam kehidupan nasional, khususnya di dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan. Untuk mencapai kebehasilan tersebut erat kaitannya dengan pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia sebagai modal dasar pembangunan nasional.

Pengembangan sumber daya manusia merupakan suatu upaya yang besar, sehingga tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja tanpa adanya keterlibatan masyarakat.

  1. Pengertian

Secara umum istilah kader kesehatan yaitu kader-kader yang dipilih oleh masyarakat tadi menjadi penyelenggara Posyandu.

Banyak para ahli mengemukakan mengenai pengertian tentang kader kesehatan antara lain : L.A. Gunawan memberikan batasan tentang kader kesehatan : “Kader kesehatan dinamakan juga promotor kesehatan desa (prokes) adalah tenaga sukarela yang dipilih oleh dari masyarakat dan bertugas mengembangkan masyarakat”.

Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat Depkes RI memberikan batasan kader : “Kader adalah warga masyarakat setempat yang dipilih dan ditinjau oleh masyarakat dan dapat bekerja secara sukarela”.

Pengertian kader adalah seorang tenaga sukarela yang direkrut dari, oleh dan untuk masyarakat, yang bertugas membantu kelancaran pelayanan kesehatan.

Kader kesehatan masyarakat adalah laki-laki atau wanita yang dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk menangani masalah-masalah kesehatan perseorangan maupun masyarakat untuk berkerja dalam hubungan yang amat dekat dengan tempat-tempat pemberian pelayanan kesehatan.

Kader merupakan tenaga masyarakat yang dianggap paling dekat dengan masyarakat, departemen kesehatan membuat kebijakan mengenai latihan untuk kader yang dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, menurunkan angka kematian ibu dan anak. Para kader kesehatan masyarakat itu seyogyanya memiliki latar belakang pendidikan yang cukup sehingga memungkinkan mereka untuk membaca, menulis dan menghitung secara sederhana.

Kader kesehatan masyarakat bertanggung jawab atas masyarakat setempat serta pimpinan yang ditujuk oleh pusat-pusat pelayanan kesehatan. Diharapkan mereka dapat melaksanakan petunjuk yang diberikan oleh para pembimbing dalam jalinan kerja dari sebuah tim kesehatan.

Para kader kesehatan masyarakat untuk mungkin saja berkerja secara fulltime atau partime dalam bidang pelayanan kesehatan dan mereka tidak dibayar dengan uang atau bentuk lainnya oleh masyarakat setempat atau oleh puskesmas. Namun ada juga kader kesehatan yang disediakan sebuah rumah atau sebuah kamar serta beberapa peralatan secukupnya oleh masyarakat setempat.

Dengan terbentuknya kader kesehatan, pelayanan kesehatan yang selama ini dikerjakan oleh petugas kesehatan saja dapat dibantu oleh masyarakat. Dengan demikian masyarakat bukan hanya merupakan objek pembangunan, tetapi juga merupakan mitra pembangunan itu sendiri. Selanjutnya dengan adanya kader, maka pesan-pesan yang disampaikan dapat diterima dengan sempurna berkat adanya kader, jelaslah bahwa pembentukan kader adalah perwujudan pembangunan dalam bidang kesehatan.

  1. Macam Kader Kesehatan Dalam Pelayanan Puskesmas

Keberadaan kader sering dikaitkan dengan pelayanan rutin di posyandu. Padahal ada beberapa macam kader bisa dibentuk sesuai dengan keperluan menggerakkan partisipasi masyarakat atau sasarannya dalam program pelayanan kesehatan.

  1. Kader Posyandu Balita

Kader yang bertugas di pos pelayanan terpadu (posyandu) dengan kegiatan rutin setiap bulannya melakukan pendaftaran, pencatatan, penimbangan bayi dan balita.

  1. Kader Posyandu Lansia

Kader yang bertugas di posyandu lanjut usia (lansia) dengan kegiatan rutin setiap bulannya membantu petugas kesehatan saat pemeriksaan kesehatan pasien lansia.

  1. Kader Masalah Gizi

Kader yang bertugas membantu  petugas puskesmas melakukan pendataan, penimbangan bayi dan balita yang mengalami gangguan gizi (malnutrisi).

  1. Kader Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)

Kader yang bertugas membantu  bidan puskesmas melakukan pendataan, pemeriksaan ibu hami dan anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan (penyakit).

  1. Kader Keluarga Berencana (KB)

Kader yang bertugas membantu  petugas KB melakukan pendataan, pelaksanaan pelayanan KB kepada pasangan usia subur di lingkungan tempat tinggalnya.

  1. Kader Juru Pengamatan Jentik (Jumantik)

Kader yang bertugas membantu  petugas puskesmas melakukan pendataan dan pemeriksaan jentik nyamuk di rumah penduduk sekitar wilayah kerja puskesmas

  1. Kader Upaya Kesehatan Kerja (UKK)

Kader yang membantu petugas puskesmas melakukan pendataan dan pemeriksaan kesehatan tenaga kerja di lingkungan pos tempat kerjanya

  1. Kader Promosi Kesehatan (Promkes)

Kader yang bertugas membantu petugas puskesmas melakukan penyuluhan kesehatan secara perorangan maupun dalam kelompok masyarakat

  1. Kader Upaya Kesehatan Sekolah (UKS)

Kader yang bertugas membantu petugas puskesmas melakukan penjaringan dan pemeriksaan kesehatan anak-anak usia sekolah pada pos pelayanan UKS.

  1. Tujuan Pembentukan Kader

Dalam rangka mensukseskan pembangunan nasional, khusus di bidang kesehatan, bentuk pelayanan kesehatan diarahkan pada prinsip bahwa masyarakat bukanlah sebagai objek akan tetapi merupakan subjek dari pembangunan itu sendiri. Pada hakekatnya kesehatan dipolakan mengikut sertakan masyarakat secara aktif dan bertanggung jawab.

Keikut sertaan masyarakat dalam meningkatkan efisiensi pelayanan adalah atas dasar terbatasnya daya, dan upaya dalam operasional pelayanan kesehatan masyarakat akan memanfaatkan sumber daya yang ada di masyarakat seoptimal mungkin. Pola pikir yang semacam ini merupakan penjabaran dari karsa pertama yang berbunyi, “Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk menolong dirinya dalam bidang kesehatan”.

Menurut Santoso Karo-Karo, kader yang dinamis dengan pendidikan rata-rata tingkat desa teryata mampu melaksanakan beberapa hal yang sederhana, akan tetapi berguna bagi masyarakat sekelompoknya meliputi :

  1. Pengobatan/ringan sederhana, pemberian obat cacing pengobatan terhadap diare dan pemberian larutan gula garam, obat-obatan sederhan dan lain-lain.
  2. Penimbangan dan penyuluhan gizi.
  3. Pemberantasan penyakit menular, pencarian kasus, pelaporan vaksinasi, pemberian distribusi obat/alat kontrasepsi KB penyuluhan dalam upaya menanamkan NKKBS.
  4. Penyediaan dan distribusi obat/alat kontrasepsi KB penyuluhan dalam upaya menamakan NKKBS.
  5. Penyuluhan kesehatan dan bimbingan upaya keberhasilan lingkungan, pembuatan jamban keluarga dan sarana air sederhana.
  6. Penyelenggaraan dana sehat dan pos kesehatan desa dan lain-lain.
  1. Pembentukan Kader

Mekanisme pembentukan kader membutuhkan kerjasama tim. Hal ini disebabkan karena kader yang akan dibentuk terlebih dahulu harus diberikan pelatihan kader. Pelatihan kader ini diberikan kepada para calon kader didesa yang telah ditetapkan. Sebelumnya telah dilaksanakan kegiatan persiapan tingkat desa berupa pertemuan desa, pengamatan dan adanya keputusan bersama untuk terlaksanakan acara tersebut. Calon kader berdasarkan kemampuan dan kemauan berjumlah 4-5 orang untuk tiap posyandu. Persiapan dari pelatihan kader ini adalah:

  1. Calon kader yang kan dilatih.
  2. Waktu pelatihan sesuai kesepakatan bersama.
  3. Tempat pelatihan yang bersih, terang, segar dan cukup luas.
  4. Adanya perlengkapan yang memadai.
  5. Pendanaan yang cukup.
  6. Adanya tempat praktik (lahan praktik bagi kader).

Tim pelatihan kader melibatkan dari beberapa sektor. Camat otomatis bertanggung jawab terhadap pelatihan ini, namun secara teknis oleh kepala puskesmas. Pelaksanaan harian pelatihan ini adalah staf puskesmas yang mampu melaksanakan. Adapun pelatihannya adalah tanaga kesehatan, petugas KB (PLKB), pertanian, agama, pkk, dan sector lain.

Waktu pelatihan ini membutuhkan 32 jam atau disesuaikan. Metode yang digunakan adalah ceramah, diskusi, simulasi, demonstrasi, pemainan peran, penugasan, dan praktik lapangan. Jenis materi yang disampaikan adalah:

  1. Pengantar tentang posyandu.
  2. Persiapan posyandu.
  3. Kesehatan ibu dan anak.
  4. Keluarga berencana.
  5. Penangulangan diare.
  6. Pencatatan dan pelaporan.
  7. Persyaratan Menjadi Kader

Bahwa pembangunan dibidang kesehatan dapat dipengaruhi dari keaktifan masyarakat dan pemuka-pemukanya termasuk kader, maka pemilihan calon kader yang akan dilatih perlu mendapat perhatian.

Secara disadari bahwa memilih kader yang merupakan pilihan masyarakat dan memdapat dukungan dari kepala desa setempat kadang-kadang tidak gampang. Namun bagaimanapun proses pemilihan kader ini hendaknya melalui musyawarah dengan masyarakat, sudah barang tentu para pamong desa harus juga mendukung.

Dibawah ini salah satu persaratan umum yang dapat dipertimbangkan untuk pemilihan calon kader :

  1. Dapat baca, tulis dengan bahasa Indonesia.
  2. Secara fisik dapat melaksanakan tugas-tugas sebagai kader.
  3. Mempunyai penghasilan sendiri dan tinggal tetap di desa yang bersangkutan.
  4. Aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial maupun pembangunan desanya.
  5. Dikenal masyarakat dan dapat bekerjasama dengan masyarakat calon kader lainnya dan berwibawa.
  6. Sanggup membina paling sedikit 10 KK untuk meningkatkan keadaan kesehatan lingkungan.
  7. Diutamakan telah mengikuti KPD atau mempunyai keterampilan.

Dr. Ida Bagus, mempunyai pendapat lain mengenai persaratan bagi seorang kader antara lain :

  1. Berasal dari masyarakat setempat.
  2. Tinggal di desa tersebut.
  3. Tidak sering meninggalkan tempat untuk waktu yang lama.
  4. Diterima oleh masyarakat setempat.
  5. Masih cukup waktu bekerja untuk masyarakat disamping mencari nafkah lain.
  6. Sebaiknya yang bisa baca tulis.

Dari persyaratan-persyaratan yang diutamakan oleh beberapa ahli diatas dapatlah disimpulkan bahwa kriteria pemilihan kader kesehatan antara lain, sanggup bekerja secara sukarela, mendapat kepercayaan dari masyarakat serta mempunyai kredibilitas yang baik dimana perilakunya menjadi panutan masyarakat, memiliki jiwa pengabdian yang tinggi, mempunyai penghasilan tetap, pandai baca tulis, sanggup membina masyarakat sekitarnya.

Kader kesehatan mempunyai peran yang besar dalam upanya meningkatkan kemampuan masyarakat menolong dirinya untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. Selain itu peran kader ikut membina masyarakat dalam bidang kesehatan dengan melalui kegiatan yang dilakukan baik di Posyandu.

 

  1. Tugas Kegiatan Kader

Tugas kegiatan kader akan ditentukan, mengingat bahwa pada umumnya kader bukanlah tenaga profesional melainkan hanya membantu dalam pelayanan kesehatan. Dalam hal ini perlu adanya pembatasan tugas yang diemban, baik menyangkut jumlah maupun jenis pelayanan.

Adapun kegiatan pokok yang perlu diketahui oleh kader dan semua pihak dalam rangka melaksanakan kegiatan-kegiatan baik yang menyangkut didalam maupun diluar Posyandu antara lain :

  1. Kegiatan yang dapat dilakukan kader di Posyandu adalah:
  • Melaksanan pendaftaran.
  • Melaksanakan penimbangan bayi dan balita.
  • Melaksanakan pencatatan hassil penimbangan.
  • Memberikan penyuluhan.
  • Memberi dan membantu pelayanan.
    1. Kegiatan yang dapat dilakukan kader diluar Posyandu KB-kesehatan adalah:
  • Bersifat yang menunjang pelayanan KB, KIA, Imunisasi, Gizi dan penanggulan diare.
  • Mengajak ibu-ibu untuk datang para hari kegiatan Posyandu.
  • Kegiatan yang menunjang upanya kesehatan lainnya yang sesuai dengan permasalahan yang ada :
  • Pemberantasan penyakit menular.
  • Penyehatan rumah.
  • Pembersihan sarang nyamuk.
  • Pembuangan sampah.
  • Penyediaan sarana air bersih.
  • Menyediakan sarana jamban keluarga.
  • Pembuatan sarana pembuangan air limbah.
  • Pemberian pertolongan pertama pada penyakit.
  • Dana sehat.
  • Kegiatan pengembangan lainnya yang berkaitan dengan kesehatan.
    1. Peranan Kader di luar Posyandu KB-kesehatan:
  • Merencanakan kegiatan, antara lain: menyiapkan dan melaksanakan survei mawas diri, membahas hasil survei, menyajikan dalam MMD, menentukan masalah dan kebutuhan kesehatan masyarakat desa, menentukan kegiatan penanggulangan masalah kesehatan bersama masyarakat membahas pembagian tugas menurut jadwal kerja.
  • Melakukan komunikasi, informasi dan motivasi wawancara muka (kunjungan), alat peraga dan percontohan.
  • Menggerakkan masyarakat: mendorong masyarakat untuk gotong royong, memberikan informasi dan mengadakan kesepakatan kegiatan apa yang akan dilaksanakan dan lain-lain.
  • Memberikan pelayanan yaitu, :
  • Membagi obat.
  • Membantu mengumpulkan bahan pemeriksaan.
  • Mengawasi pendatang didesanya dan melapor.
  • Memberikan pertolongan pemantauan penyakit.
  • Memberikan pertolongan pada kecelakaan dan lainnya.
  • Melakukan pencatatan, yaitu:
  • KB atau jumlah PUS, jumlah peserta aktif, dsb.
  • KIA : jumlah ibu hamil, vitamin A yang dibagikan dan sebagainya.
  • Imunisasi : jumlah imunisasi TT bagi ibu hamil dan jumlah bayi dan balita yang diimunisasikan.
  • Gizi : jumlah bayi yang ada, mempunyai KMS, balita yang ditimbang dan yang naik timbangan.
  • Diare : jumlah oralit yang dibagikan, penderita yang ditemukan dan dirujuk.
  • Melakukan pembinaan mengenai program keterpaduan KB-kesehatan dan upanya kesehatan lainnya.
  • Keluarga pembinaan yang untuk masing-masing untuk berjumlah 10-20 KK atau diserahkan dengan kader setempat hal ini dilakukan dengan memberikan informasi tentang upanya kesehatan dilaksanakan.
  • Melakukan kunjungan rumah kepada masyarakat terutama keluarga binaan.
  • Melakukan pertemuan kelompok.
  1. Peran Kader Kesehatan dan Pemerhati KIA

Peran kader kesehatan dan pemerhati KIA di wilayahnya cukup banyak dan tergolong cukup berat. Sedikitnya ada 10 tugas yang harus dijalani, yaitu :

  1. Menjadi pendamping ibu dan keluarganya dalam menerima pelayanan KIA.
  2. Membantu keluarga dalam menerapkan buku KIA, misalnya memotivasi ibu dan keluarga untuk membaca dan menerapkan pesan-pesan dalam buku KIA dan melakukan penyuluhan (mengajar) pesan-pesan yang ada di dalam buku KIA.
  3. Membantu petugas kesehatan dalam pelayanan KIA di posyandu, dalam kunjungan ke rumah ibu hamil/nifas/bersalin/pasca persalinan maupun ke rumah balita.
  4. Memotivasi dan menggerakkan ibu hamil agar mau datang/control ke fasilitas kesehatan.
  5. Memotivasi dan menggerakkan ibu balita agar mau datang dan membawa anaknya ke posyandu dan sarana kesehatan lainnya.
  6. Memberi pelayanan KIA bagi ibu dan keluarganya pada daerah yang tidak terjangkau oleh petugas kesehatan, misalnya menimbang berat badan, mencatat dan memberikan vitamin A sesuai petunjuk dalam buku KIA.
  7. Mengingatkan ibu untuk selalu membawa buku KIA setiap kali berkunjung ke fasilitas kesehatan.
  8. Merujuk dan mendampingi ibu dan balita yang mempunyai masalah kesehatan kepada petugas kesehatan.
  9. Menggunakan buku KIA dalam melakukan deteksi dini masalah kesehatan ibu dan anak.
  10. Menggunakan buku KIA dalam melakukan deteksi dini gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak.
  1. Strategi Menjaga Eksistensi Kader

Setelah kader posyandu terbentuk, maka perlu adanya strategi agar mereka dapat selalu eksis membantu masyarakat dibidang kesehatan.

  1. Refresing kader posyandu pada saat posyandu telah selesai dilaksanakan oleh bidan desa maupun petugas lintas sektor yang mengikuti kegiatan posyandu.
  2. Adanya perubahan kader posyandu tiap desa dan dilaksanakan pertemuan rutin tiap bulan secara bergilir disetiap posyandu.
  3. Revitalisasi kader posyandu baik tingkat desa maupun kecamatan. Dimana semua kader di undang dan diberikan penyegaran materi serta hiburan dan bisa juga diberikan rewards.
  4. Pemberian rewards rutin misalnya berupa kartu berobat gratis ke puskesmas untuk kader dan keluarganya dan juga dalam bentuk materi yang lain yang diberikan setiap tahun.

Para kader kesehatan yang bekerja dipedesaan membutuhkan pembinaan atau pelatihan dalam rangka menghadapi tugas-tugas mereka, masalah yang dihadapinya.

Pembinaan atau pelatihan tersebut dapat berlangsung selama 6-8 minggu atau bahkan lebih lama lagi. Salah satu tugas bidan dalam upaya menggerakkan peran serta masyarakat adalah melaksanakan pembinaan kader.

Adapun hal-hal yang perlu disampaikan dalam pembinaan kader adalah :

  1. Pemberitahuan ibu hamil untuk bersalin ditenaga kesehatan (promosi bidan siaga).
  2. Pengenalan tanda bahaya kehamilan, persalinan dan nifas serta rujukannya.
  3. Penyuluhan gzi dan keluarga berencana.
  4. Pencatatan kelahiran dan kematian bayi atau ibu.
  5. Promosi tabulin, donor darah berjalan, ambulan desa, suami siaga, satgas gerakan sayang ibu.

Pembinaan kader yang dilakukan bidan didalamnya berisi tentang peran kader adalah dalam daur kehidupan wanita dari mulai kehamilan sampai dengan masa perawatan bayi. Adapun hal-hal yang perlu disampaikan dalam persiapan persalinan adalah sebagai berikut :

  1. Sejak awal, ibu hamil dan suami menentukan persalinan ini ditolong oleh bidan atau dokter
  2. Suami atau keluarga perlu menabung untuk biaya persalinan.
  3. Ibu dan suami menanyakan ke bidan atau ke dokter kapan perkiraan tanggal persalinan.
  4. Jika ibu bersalin dirumah, suami atau keluarga perlu menyiapkan ruangan yang terang, tempat tidur dengan alas kain yang bersih, air bersih dan sabun untuk cuci tangan, handuk kain, pakaian kain yang bersih dan kering dan pakaian ganti ibu.

Pembinaan kader yang dilakukan bidan yang berisi tentang peran kader dalam deteksi dini tanda bahaya dalam kehamilan maupun hal-hal berikut ini.

  1. Perdarahan (hamil muda dan hamil tua).
  2. Bengkak dikaki, tangan, wajah, atau sakit kepala kadang disertai kejang.
  3. Demam tinggi.
  4. Keluar air ketuban sebelum waktunya.
  5. Bayi dalam kandungan gerakannya berkurang atau tidak bergerak.
  6. Ibu muntah terus dan tidak mau makan.
  7. Tugas Pokok Dan Fungsi Kader Unit Kesehatan Kerja

Kader unit kesehatan kerja (UKK) adalah pekerja, sukarela, yang bertugas meningkatkan kesehatan diri dan kelompoknya. Persyaratan yang harus dipenuhi sebagai kader UKK adalah dipilih dari, oleh masyarakat pekerja, bisa baca tulis, tinggal di lingkungan tempat bekerja, mau, mampu bekerja sukarela, mempunyai waktu, sudah dilatih kesehatan kerja dan mengikuti pelatihan  kader pos ukk.

Setelah terlatih sebagai kader UKK, ada 13 (tiga belas) tugas pokok dan fungsi (tupoksi) yang harus dijalankannya secara optimal, antara lain :

  1. Pertemuan tingkat pekerja (PTP) : mengadakan sosialisasi upaya kesehatan kerja di tempat kerja, merencanakan pelaksanaan survey mawas diri dan  musyawarah masyarakat pekerja
  2. Survey mawas diri (SMD) : pengenalan, pengumpulan, pengkajian masalah kesehatan pekerja untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat pekerja mengenai kesehatan kerja
  3. Musyawarah masyarakat pekerja (MMP) : mengenal masalah kesehatan dan keselamatan kerja, dengan pekerja, keluarga pekerja, petugas puskesmas, aparat pemerintah
  4. Membentuk pos UKK : menentukan pengurus  pos UKK,  jadwal kegiatan, rencana kerja tahunan, target, pembiayaan, lokasi dekat dengan tempat kerja
  5. Perencanaan UKK : menentukan masalah kesehatan kerja berdasarkan hasil smd, menentukan prioritas masalah, perkiraan biaya, jadwal, rencana, dan target kegiatan
  6. Penyuluhan ukk : materi tentang  gizi, PHBS, kebersihan lingkungan,  potensi, risiko bahaya, penggunaan APD (alat pelindung diri),  pengolahan limbah, penyakit dan kecelakaan akibat kerja
  7. Pemeriksaan kesehatan, P3K dan P3P : membantu petugas kesehatan, pemeriksaan ksehatan umum, pengadaan dan pengelolaan kartu kunjungan, formulir status kesehatan pekerja, membuat daftar penyakit akibat kerja, pemberian obat bebas pada penyakit ringan
  8. Upaya rujukan : merujuk segera pasien kecelakaan, dan penyakit berat yang tidak bisa tertangani.
  9. Pencatatan pelaporan : membuat laporan hasil pelaksanaan kegiatan pelayanan
  10. Kerjasama lintas sektoral : pertemuan berkala dengan anggota pos UKK, pertemuan rutin teratur dengan petugas, kunjungan rumah kepada pekerja, membantu kesulitan pekerja
  11. Mengelola sumber keuangan UKK : mengatur sumber pemasukan dan pengeluaran pos ukk
  12. Membantu pemberdayaan ekonomi pekerja : integrasi kegiatan ekonomi yang menguntungkan, pembentukan dan pengelolaan dana simpan pinjam (koperasi), pemberiaan kredit modal usaha, penyediaan  alat  kesehatan  kerja.
  13. Membina kemampuan diri : meningkatkan pengetahuan melalui pelatihan dan penataran, pertemuan rutin anggota UKK, kunjungan lapangan, melaksanakan  kegiatan  secara kontinyu

 

  1. PERTANYAAN
    1. Sebutkan dan jelaskan tujuan pembentukan kader kesehatan ?
    2. Sebutkan dan jelaskan persyaratan menjadi kader kesehatan ?
    3. Sebutkan dan jelaskan strategi menjaga eksistensi kader kesehatan ?

 

 

 

  1. PENUTUP/KESIMPULAN
  2. Kader merupakan tenaga masyarakat yang dianggap paling dekat dengan masyarakat, departemen kesehatan membuat kebijakan mengenai latihan untuk kader yang dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, menurunkan angka kematian ibu dan anak. Para kader kesehatan masyarakat itu seyogyanya memiliki latar belakang pendidikan yang cukup sehingga memungkinkan mereka untuk membaca, menulis dan menghitung secara sederhana.
  3. Secara disadari bahwa memilih kader yang merupakan pilihan masyarakat dan memdapat dukungan dari kepala desa setempat kadang-kadang tidak gampang. Namun bagaimanapun proses pemilihan kader ini hendaknya melalui musyawarah dengan masyarakat, sudah barang tentu para pamong desa harus juga mendukung.
  4. Kader kesehatan mempunyai peran yang besar dalam upanya meningkatkan kemampuan masyarakat menolong dirinya untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. Selain itu peran kader ikut membina masyarakat dalam bidang kesehatan dengan melalui kegiatan yang dilakukan baik di Posyandu.

 

  1. DAFTAR PUSTAKA
  2. H & Hasanbasri. M, (2008), Partisipasi Masyarakat Terhadap Praktik Kebidanan Komunitas, Studi Kasus Desa Timbulharjo Kecamatan Sewon Bantul, KMPK UGM, Working Paper Series No. 4, Januari 2008, First Draft. Yogjakarta.
  3. Syahlan, HJ. (1996), Kebidanan Komunitas, Yayasan Bina Sumber Daya Kesehatan, Jakarta.
  4. Ndraha, T. (1990), Pembangunan Masyarakat, Rineka Cipta, Jakarta.
  5. Notoatmodjo, S. (2005), Promosi Kesehatan: Teori dan Aplikasi, Rineka Cipta, Jakarta.
  6. Mayoux, L. (1995), Beyond Naivety: Women, Gender Inequality and Participatory Development, Development and Change, Institute of Social Studies, Netherland, Vol.26 No.2 p.235
  7. Abe, (2005), Perencanaan Daerah Partisipasi, Pustaka Jogja Mandiri, Yogyakarta.
  8. Effendi, N. (1998), Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat, EGC, Jakarta.
  9. Putu, 2010, 9 Macam Kader Kesehatan dalam Pelayanan Puskesmas, http://www.puskel.com/9-macam-kader-kesehatan-dalam-pelayanan-puskesmas/5 January 2010.
  10. Zulkifli, dr. MSi., 2003, Posyandu Dan Kader Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, ©2003 Digitized by USU digital library.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: